Jakarta (beritajatim.com) – Yayasan Rekat Peduli Indonesia, sebagai lembaga mitra Bakrie Center Foundation (BCF) dalam program Campus Leaders Program (CLP) Batch 10, turut ambil bagian dalam Konferensi Nasional CLP Batch 10 yang mengangkat tema “Pelibatan Aktif Pemuda dalam Percepatan Pencapaian SDGs Indonesia.”
“Tujuan utama dari program ini bukan semata-mata soal ekonomi, tapi bagaimana kita membangun kemandirian yang bermakna bagi kader di komunitas, mengingat kader juga merupakan kelompok rentan” ujar Umdatul Umma, perwakilan Yayasan Rekat Peduli Indonesia.
Konferensi Nasional CLP Batch 10 dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Manager Monitoring & Evaluasi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, Presiden Direktur PT. Persada Capital Investment, Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia, dan juga CEO Bakrie Center Foundation.
Konferensi yang dihadiri lebih dari 225 peserta ini menjadi ruang strategis untuk mendiseminasikan hasil program CLP 10 yang berbasis prototipe. Rekat juga memaparkan hasil riset berbasis metode PRA (Participatory Rural Appraisal) dan PLA (Participatory Learning and Action) yang digunakan dalam merancang intervensi lokal di Kelurahan Balas Klumprik, Surabaya.
Melalui momentum Konferensi Nasional CLP Batch 10, Rekat berharap program ini tidak hanya menekan angka kasus, tetapi juga mendorong kemandirian kader dan penciptaan penghasilan tambahan, mengingat kader merupakan aktor utama dalam upaya deteksi dini dan pendampingan pasien.
Partisipasi Rekat dalam Konferensi Nasional CLP Batch 10 menegaskan bahwa eliminasi TBC tidak cukup dilakukan di ruang klinis. Diperlukan pendekatan sosial-ekonomi yang memberdayakan, di mana kader TBC menjadi agen perubahan. Melalui kolaborasi dengan pemuda, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta, Rekat berkomitmen membangun ekosistem komunitas yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat integrasi antara agenda kesehatan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Umma mengatakan, BCF sebagai lembaga filantropi yang berkomitmen pada pengembangan kepemimpinan dan kapasitas pemuda, sejak awal menghadirkan CLP sebagai wadah nyata untuk mendorong pemuda berkolaborasi langsung dengan lembaga mitra di berbagai daerah. Acara ini menjadi titik temu strategis antara para SDGs Heroes—sebutan bagi peserta CLP—dengan pemerintah, akademisi universitas, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta, untuk mempresentasikan gagasan dan prototipe program yang mereka rancang selama menjalani empat bulan magang di lembaga penempatan.
Dalam Konferensi Nasional CLP Batch 10 tersebut, Yayasan Rekat Peduli Indonesia mempresentasikan prototipe program pemberdayaan ekonomi berbasis ecoprint yang dikembangkan bersama mahasiswa magang CLP Batch 10.
“Prototipe ini merupakan pengembangan dari program pemberdayaan yang telah dijalankan Rekat sebelumnya, dan kini direncanakan pada wilayah baru, yakni Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya,” katanya.
Prototipe program unggulan Rekat yang dipresentasikan mencakup pelatihan teknik dasar ecoprint—mulai dari pencetakan pola, pemilihan bahan alami, pewarnaan, hingga tahap finishing, termasuk perhitungan biaya produksi, penetapan harga, strategi pemasaran (offline dan digital), serta pembentukan dan pendampingan kelompok usaha berbasis komunitas.
Prototipe ini bertujuan untuk memberdayakan kader TBC sebagai bentuk dukungan terhadap peran mereka yang strategis dalam mendampingi pasien dan mendeteksi kasus di tingkat komunitas, serta menjawab kebutuhan nyata para perempuan dan kader TBC yang selama ini tidak memiliki penghasilan yang tetap dan keterbatasan mobilitas.
Inisiasi utama dari rancangan program ini tidak hanya untuk meningkatkan kemandirian kader TBC agar tetap bersemangat dalam menjalankan peran pendampingan kepada pasien sekaligus memperoleh peluang peningkatan penghasilan yang berkelanjutan.
“Lebih dari sekadar penguatan ekonomi individu, program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem sosial yang mendukung keberlanjutan peran kader penggerak utama di bidang kesehatan masyarakat,” ujar Umma. [hen/ian]






