Surabaya (beritajatim.com) – Setiap pasangan yang menikah, dan kemudian memilih untuk bercerai memiliki alasan yang berbeda-beda.
Sebagai pasangan yang berorientasi pada tujuan kebahagiaan bersama, alangkah baiknya untuk mengetahui apa saja alasan perceraian yang umum terjadi.
Menurut laporan Statistik Indonesia, setiap tahun angka perceraian cenderung meningkat. Pada tahun 2022 jumlah perceraian di Indonesia mencapai 516.334. Angka ini meningkat 15,31% dibandingkan 2021 yang mencapai 447.743 kasus.
Sementara pasangan yang bercerai rata-rata dibawah usia lima tahun perkawinan. Lalu, apa penyebab umum perceraian dalam pernikahan?
BACA JUGA: Kasus Suap Hibah DPRD Jatim, KPK Periksa Koordinator Pokmas
Berdasarkan data dari The Austin Institute for The Study of Family and Culture yang diambil dari 4.000 orang dewasa yang bercerai, alasan utama perceraian adalah: perselingkuhan oleh salah satu pihak; pasangan tidak responsif terhadap kebutuhan; ketidakcocokan; ketidakdewasaan pasangan; pelecehan emosional dan masalah keuangan.
Berikut Beritajatim merangkum 10 alasan utama perceraian, nomor satu bukan karena adanya pelakor sebagaimana dikatakan banyak orang.
1. Kekerasan fisik dan emosional
Akar dari alasan utama perceraian adalah hubungan yang toxic. Seperti pasangan yang mudah melakukan kekerasan, baik secara fisik maupun mental.
2. Belum siap menikah
Hampir separuh perceraian terjadi dalam 10 tahun pertama perkawinan, terutama antara tahun keempat dan kedelapan.
Pasangan yang menyalahkan ketidaksiapan menikah sebagai alasan bercerai bahkan mencapai 75,0%. Hal ini baik ketidaksiapan secara mental karena terlalu muda hingga finansial yang dipaksakan.
BACA JUGA: Bupati Ipuk Gelontor Program Kanggo Riko, Total Anggaran Rp 4,2 M buat Perempuan Kepala Keluarga
3. Kurangnya kesetaraan
Menjalin dan menjaga hubungan pernikahan harus dilakukan kedua belah pihak. Apabila peran dan kewajiban tidak setara, maka hal ini dapat mendatangkan ketidak harmonisan.
4. Kurangnya keintiman
Keintiman penting untuk menjaga kedekatan, kebersamaan pada sepasang kekasih. Biasanya seseorang yang enggan menjaga keintiman dengan pasangan, diasumsikan tidak lagi memiliki rasa kasih sayang.
5. Harapan yang tidak realistis
Banyak yang menikah dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Seperti mengharapkan pasangan untuk selalu sempurna, baik untuk sikap hingga keadaan ekonomi.
Padahal hal ini dapat menimbulkan efek tekanan pada mental pasangan, sehingga membuat hubungan tidak langgeng.
BACA JUGA: Rektor UINSA Surabaya Ditunjuk Jadi Tim Pemantau PPHAM
6. Penambahan berat badan
Penambahan berat badan agak tidak masuk akal sebagai alasan pasangan bercerai. Namun faktanya di banyak negara, termasuk Amerika dan Indonesia penambahan berat badan menjadi alasan mengapa pasangan memilih bercerita.
Hal ini masuk dalam faktor fisik dan daya tarik pasangan. Mereka menganggap bahwa pasangan bertambah gemuk tidak masuk dalam kriteria.
7. Tidak ada yang mau mengalah; berujung perdebatan terus-menerus
Apabila pasangan saling mengedepankan ego masing-masing serta tidak mau mengalah, maka akan berujung pada pertengahan terus-menerus.
Apabila hal ini terjadi maka dapat mengurangi keintiman, rasa kasih sayang, dan menghormati satu sama lain.
BACA JUGA: Imbas Karyawan Lakukan Pengeroyokan, Warga Klampis Demo Chug Bar
8. Kurangnya komunikasi
Komunikasi sangat penting dalam hubungan pernikahan. Jika sebuah hubungan tidak memiliki komunikasi yang baik maka cenderung akan menimbulkan kebencian bagi keduanya.
Sebaliknya, komunikasi yang baik adalah fondasi pernikahan yang kuat. Ketika dua orang berbagi kehidupan bersama, mereka harus dapat berbicara tentang apa yang mereka butuhkan dan dapat memahami serta berusaha memenuhi kebutuhan pasangannya.
9. Masalah keuangan
Penyebab paling umum perceraian yang kesembilan adalah masalah keuangan. Apabila pasangan tidak memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana mengatur keuangan, maka dapat dipastikan akan berakhir dengan percekcokan hingga perceraian.
10. Perselingkuhan
Perselingkuhan bertanggung jawab atas 20-40% kegagalan sebagian besar pernikahan dan berakhir dengan perceraian.
Tidak bisa dipungkiri, perselingkuhan dianggap salah satu penyebab utama perceraian, namun ternyata perselingkuhan berada di urutan terakhir. Banyak pasangan yang beranggapan bahwa perselingkuhan masih bisa dimaafkan. (kai/ian)






