Terpilihnya Zohran Mamdani menjadi Wali Kota New York menunjukkan adanya pergeseran politik demokrasi di Amerika Serikat. Oligarki dan kekuatan elite tak selamanya mendominasi.
Mamdani, seorang lelaki muslim keturunan Asia Selatan yang lahir di Uganda dan baru menjadi warga AS pada 2018, terpilih menjadi wali kota New York dengan didukung 1.036.051 suara atau 50,4 persen pemilih, mengalahkan Andrew M. Cuomo (854.995 suara atau 41.6 persen) dan Curtis Sliwa (146,137 suara atau 7.1 persen).
“Kadang revolusi datang tidak dari jalanan, tapi dari bilik suara. Inilah apa yang terjadi dari kemenangan Zohran Mamdani dan bayangan Amerika yang lain,” kata Agus Trihartono, guru besar ilmu hubungan internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Jumat (14/11/2025).
Wali Kota New York sebetulnya hanyalah satu dari ribuan jabatan publik di Amerika Serikat. Menurut Agus, sebagian orang menyebut kemenangan Mamdani hanya menggambarkan perubahan di sebagian kecil Amerika Serikat. Ini bukan sesuatu yang besar.
Namun Agus melihat, di balik suara kemenangan Mamdani sebenarnya sedang lahir sesuatu yang lebih besar daripada sekadar peralihan kekuasaan lokal. “Sejarah seringkali menunjukkan bahwa badai besar dimulai dari perubahan kecil,” katanya.
“Kemenangan Mamdani adalah refleksi pergeseran politik, ideologi, dan impian Amerika. Kemenangan ini adalah cermin retak yang menunjukkan bahwa demokrasi liberal Amerika Serikat tengah mencari wajah baru setelah kehilangan daya sihirnya selama ini,” kata Agus.
Pria yang juga menjabat Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi ini berpendapat, kemenangan tersebut adalah momentum pembalikan arah politik lokal New York, setelah selama bertahun-tahun dikuasai kombinasi elite, aparat, dan donatur besar partai.
“Selama bertahun-tahun kota ini dibangun di atas logika pasar. Siapa yang mampu membeli, dialah warga yang dianggap sah. Elitelah yang menentukan siapa boleh tinggal di Manhattan dan siapa yang harus pergi ke Bronx. Artinya pasar itu matters banget di New York,” kata Agus.
“Mandani datang dengan logika dan nalar yang berbeda sama sekali. Dia menawarkan transportasi gratis, perumahan yang terjangkau, anak-anak diurus negara, bukan oleh pasar. Dan dia berbicara tentang kota yang bukan hanya sekedar efisien, tetapi juga kota yang adil,” kata Agus.
Agus menangkap kesan adanya semacam jejak demografi baru dalam kemenangan ini. “Di situ ada generasi muda, ada imigran, ada para pekerja restoran, ada para mahasiswa, para penyewa apartemen sempit yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang gedung tinggi milik miliarder,” katanya.
Pergeseran Poros Ideologis
Sementara itu bagi politik nasional Amerika Serikat, Agus melihat adanya sinyal pergeseran poros ideologis yang sudah berlangsung kira-kira dua dekade terakhir. “Selama ini Partai Demokrat Amerika terombang-ambing di antara sayap moderat dan sayap progresif,” katanya.
Kemenangan Mamdani adalah pertanda bahwa sayap progresif tak sekadar di di tepi, tapi sudah masuk ke area aspirasi politik urban. Dia lebih menarik daripada dua tokoh progresif Partai Demokrat sebelumnya, Alexandria Ocasio-Cortez dan Bernie Sanders.
“Mamdani adalah wajah baru yang lebih muda, lebih berwarna kulitnya, dan lebih global. Jadi ini sebetulnya sebuah situasi baru di Partai Demokrat,” kata Agus.
“Apa arti kemenangan ini bagi mimpi Amerika atau American Dream? Politik Amerika kayaknya sedang mengalami semacam redefinisi American Dream. Dulu mimpi itu adalah mimpi individual, mimpi tentang menjadi orang kaya yang sukses. Kini mimpi itu tak lagi tentang menjadi kaya, melainkan menjadi di bagian dari komunitas yang adil,” kata Agus.
Kemenangan Mamdani juga menunjukkan bahwa patriotisme di New York mulai bergeser. “Bukan tentang kebesaran negara, tapi tentang keberpihakan pada warga biasa. Di New York-lah dimulai situasi di mana demokrasi Amerika berusaha memulihkan diri dari luka ketimpangan yang selama ini dibiarkan tumbuh,” kata Agus.
American Dream Versi Baru
Kemenangan Mamdani mungkin bisa disebut sebagai American Dream versi baru. “Bukan tentang rumah berpagar putih, tapi tentang rumah yang bisa ditinggali siapa saja. Tentu saja bukan tentang kebebasan dari pajak, tapi lebih menekankan tentang kebebasan dari kelaparan. Kemajuan tidak semata tentang pertumbuhan ekonomi, tapi juga tentang pertumbuhan empati,” kata Agus.
Isu imigrasi menemukan narasi baru di tangan Mamdani. “Imigran bukan ancaman, melainkan fondasi. Perbedaan bukan cacat, tetapi jaminan kebebasan itu ada. Politik bukan sekadar menang, tapi tentang siapa yang diajak duduk bersama,” kata Agus. Ini bertentangan dengan narasi Presiden Donald Trump yang menganggap imigran ancaman.
“Kemenangan ini juga mengguncang ideologi lama Amerika sebetulnya. Sejak perang dingin, kapitalisme dan demokrasi dianggap pasangan suci yang tak terpisahkan. Kini retakan itu muncul justru dari New York,” kata Agus.
“Mamdani mengusung sosialisme demokrasi bukan untuk menumbangkan kapitalisme. tapi untuk menyeimbangkannya,” kata Agus.
Menyeimbangkan Kapitalisme
Agus melihat ada semacam keletihan global tentang kapitalisme yang dulu menjadi janjikan kebebasan namun menumbuhkan ketimpangan. “Sosialisme demokrasi yang diusung Mamdani bukan untuk meniadakan pasar melainkan menjaganya agar tetap manusiawi,” katanya.
“Ini sebenarnya paradoks yang menarik. Amerika yang selama ini mengajari dunia tentang demokrasi, kini sedang belajar kembali cara menjalaninya,” kata Agus.
Agus percaya kemenangan Mamdani tidak langsung mengubah wajah Amerika. “Terlalu utopis untuk mengatakan ini langsung mengubah Amerika, karena New York hanya satu bagian kecil dari Amerika. Tapi paling tidak ini membuka kembali ruang imajinasi, bahwa politik bisa lebih jujur, ideologi bisa lebih berperasaan, dan mimpi bisa lebih egaliter,” katanya.
“Dari Queens di New York, seorang anak imigran mengingatkan dunia, bahwa demokrasi bukan benda mati, melainkan sebuah kata kerja yang hidup sejauh yang diperjuangkan. Bahkan yang di tempat yang selama ini dianggap tidak mungkin seperti di New York, demokrasi bisa berpihak kepada yang lemah, demokrasi bisa to be more than happy,” kata Agus. [wir]






