Malang (beritajatim.com) – Setelah beberapa waktu berseteru hebat dengan tetangganya, Mohammad Imam Muslimim atau yang akrab disapa Yai Mim, akhirnya kembali ke kediamannya di Perumahan Joyogrand Kavling Depag, RT 09/RW 09, Kota Malang.
Kepulangannya ini menjadi sinyal baru di tengah konflik yang sempat memanas dan menarik perhatian publik luas. Yai Mim, yang merupakan mantan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengonfirmasi bahwa dirinya telah berada di rumah dan merasa tidak pernah dalam kondisi terancam.
“Saya kira saya itu tidak pernah merasa terancam,” ujar Yai Mim saat dikonfirmasi beritajatim.com melalui video call, Senin (6/10/2025).
Kembalinya Yai Mim ke rumahnya menjadi titik krusial dalam perseteruan ini, terutama menjelang upaya mediasi yang akan dilakukan oleh tokoh nasional, Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Situasi yang tak kunjung mereda tampaknya mengundang perhatian Kang Dedi Mulyadi. Menurut informasi, KDM dijadwalkan akan tiba di lokasi konflik pada hari ini sekitar pukul 15.00 WIB. Tujuannya adalah untuk menengahi dan memediasi secara langsung kedua belah pihak yang berseteru.
Kehadiran KDM diharapkan dapat menjadi penengah yang efektif untuk mendinginkan suasana dan mencari solusi damai. Yai Mim sendiri menyambut baik rencana kedatangan KDM, berharap kehadirannya dapat meredam potensi konflik yang lebih luas.
“Kami mendamaikan. Kenapa ini kalau tidak KDM segera datang ke sini. Dengan kehadiran KDM, saya mohon untuk mendamaikan ini,” ungkap Yai Mim.
Konflik ini awalnya merupakan perseteruan pribadi antara Yai Mim dengan tetangganya, Nurul Sahara, yang merupakan istri dari Mohammad Shofwan, pemilik usaha rental mobil sekaligus Ketua DPAC Madas Karangploso.
Namun, Yai Mim khawatir isu ini digiring menjadi sentimen etnis antara Aremania dengan warga Madura. Yai Mim dengan tegas menepis narasi tersebut dan menyatakan bahwa dirinya justru menjadi perekat bagi banyak kalangan, termasuk menyatukan berbagai etnis di bawah semangat Aremania yang sesungguhnya.
Kekhawatiran ini muncul setelah konflik yang berawal dari masalah bertetangga tersebut mulai memicu narasi perang sampit di media sosial. Yai Mim menegaskan bahwa isu ini sengaja diembuskan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi membahayakan kerukunan di Malang.
”Isu ini sudah mengarah ke perang samping antara Aremania dengan etnis Madura. Seolah-olah ada yang ingin membersihkan etnis Madura dari Malang, ini kan bahaya,” ujar Yai Mim.
Ia menolak keras narasi tersebut dengan menjelaskan perannya sebagai figur yang justru mempersatukan berbagai etnis di bawah semangat Aremania. Menurutnya, banyak santri dan pengikutnya dari berbagai daerah, termasuk Madura, yang menjadi Aremania karena terinspirasi olehnya.
”Santri saya yang Aremania itu ada dari Madura, Aceh, Medan, hingga Papua. Jadi keliru jika saya dituduh memicu konflik etnis,” tegasnya.
Untuk meluruskan pemahaman, Yai Mim juga mendefinisikan kembali esensi dari seorang Aremania sejati. Menurutnya, Aremania adalah sosok yang suka menolong dalam kebaikan, menebar cinta kasih tanpa membedakan suku atau latar belakang, serta selalu menghindari fitnah.
“Aremania adalah orang yang berperilaku suka tolong-menolong dalam kebaikan, cinta kasih tanpa membedakan, dan menghindari fitnah. Bisa dari mana saja asalnya,” tegas Yai Mim menutup keterangan.
Terkait hal ini, beritajatim.com telah menghubungi Nurul Sahara untuk mendapatkan penjelasan. Sahara pun menyatakan enggan memberikan tanggapan.
“No comment,” jawab Sahara melalui pesan WhatsApp. [dan/beq]






