Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 1.091 siswa Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Surabaya menjalani pemeriksaan refraksi dan menerima kacamata gratis dalam rangka peringatan World Sight Day (Hari Penglihatan Sedunia) 2025.
Kegiatan bertema “Bersatu Selamatkan Penglihatan Generasi” ini merupakan kolaborasi antara Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jawa Timur, Ikatan Profesi Optometris Indonesia (Iropin) Jawa Timur, dan Lazisnu Jawa Timur.
Ketua Umum Pengurus Pusat Iropin, Nova Joko Pamungkas menjelaskan bahwa 1.091 siswa tersebut telah melalui proses skrining dari total 3.000 siswa di 12 sekolah.
“1.091 suspek yang sudah kami screening ada kelainan refraksinya, kami hadirkan di sini untuk kami periksa lebih lanjut lagi dalam pemeriksaan refraksi, berapa ukurannya, nanti akan kami berikan kacamata secara gratis sebanyak 1.091 kacamata,” ujar Nova, Sabtu (11/10/2025).
Sementara itu, Ketua Pengurus Perdami Jawa Timur, Muhammad Firmansjah menambahkan bahwa pemeriksaan tidak hanya sebatas penentuan ukuran kacamata, tetapi juga melibatkan dokter spesialis mata untuk mendeteksi kelainan organik lain.
“Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan mata luar hingga bagian dalam atau bagian retina dan saraf-sarafnya,” jelas Firmansjah. Jika ditemukan kelainan organik, pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut di klinik atau rumah sakit.
Firmansjah menekankan bahwa fokus utama peringatan World Sight Day tahun ini adalah peningkatan awareness dan screening sejak usia dini, khususnya usia sekolah. Hal ini sejalan dengan tema global “Love Your Eyes” dan misi WHO “2030 Insight”.
Menurutnya, kelainan refraksi, gangguan pemfokusan objek, adalah penyebab gangguan penglihatan terbesar pada usia di bawah 50 tahun dan dapat dikoreksi dengan kacamata.
“Kalau tidak ditangani secara dini, maka fungsi penglihatan tersebut kalau terlambat, maka akan mengakibatkan penurunan fungsi yang permanen, yang kadang-kadang tidak bisa lagi dilakukan koreksi dengan kacamata,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa gangguan penglihatan pada seseorang dapat menurunkan kondisi ekonomi negara karena mengurangi produktivitas dua orang sekaligus.
Menanggapi pertanyaan mengenai kaitan gadget, Firmansjah menyebut kelainan refraksi telah menjadi penyebab utama sebelum era gadget populer. Namun, perilaku melihat dalam jarak dekat terlalu lama dapat mempercepat progresivitas kelainan.
Di Asia, prevalensi kelainan refraksi tercatat lebih tinggi dibandingkan ras lain. Firmansjah juga menyoroti masalah utama lain, yakni masyarakat sering kali tidak menyadari adanya kelainan pada matanya.
“WHO menyarankan pemeriksaan mata rutin itu satu kali setiap tahun. Minimal,” tutup Firmansjah.
Di tempat yang sama, Ketua Lazisnu Jatim, Afif Amrullah mengapresiasi kolaborasi ketiga lembaga ini yang mendukung program pemerintah untuk menyelamatkan kesehatan mata masyarakat sejak dini, baik dari sisi pendanaan maupun SDM. [ipl/ian]






