Tidak terpilihnya Marselino Ferdinan dalam skuad Tim Nasional (Timnas) Indonesia senior untuk menghadapi putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat sepak bola Tanah Air.
Sejak Timnas ditangani oleh Shin Tae-yong hingga putaran ketiga, pemain yang kini memperkuat AS Trencin tersebut selalu mendapat kepercayaan untuk mengisi skuad Garuda. Masih segar dalam ingatan publik, Marselino menjadi pahlawan kemenangan Indonesia atas Arab Saudi di Stadion Gelora Bung Karno lewat dua gol yang dicetaknya. Fakta ini membuat banyak pihak bertanya-tanya atas absennya sang pemain dalam daftar terbaru Timnas.

Pelatih kepala Patrick Kluivert, yang kini menukangi Tim Garuda, tentu memiliki alasan teknis di balik keputusannya. Kemungkinan besar, Kluivert dan staf pelatih menilai performa Marselino belum optimal, terutama setelah laga uji coba terakhir melawan Taiwan dan Lebanon di Surabaya.
Marselino sempat mendapat label “Wonderkid Indonesia” karena kiprahnya di Eropa. Setelah tampil impresif bersama Persebaya Surabaya di Liga 1, ia menandatangani kontrak dengan KMSK Deinze, klub Divisi Dua Liga Belgia, pada Juni 2024. Namun, berbeda dengan di Persebaya, ia jarang mendapat kesempatan tampil di tim utama.
Memasuki tahun kedua di Eropa, Marselino sempat pindah ke Oxford United, klub Divisi Dua Liga Inggris, namun juga minim menit bermain. Ia akhirnya dipinjamkan ke AS Trencin, klub kasta utama Liga Slovakia, demi menambah pengalaman bertanding.
Sebagai pemain profesional, kesempatan bermain dalam kompetisi resmi sangat penting untuk menjaga kemampuan dan perkembangan karier. Tanpa menit bermain yang cukup, pemain berisiko mengalami penurunan performa karena hanya berlatih tanpa bertanding. Semakin sering bermain, semakin matang pula aspek teknik, taktik, fisik, dan mental seorang pemain.
Marselino bukan satu-satunya pemain Indonesia yang berkarier di Eropa. Sebelumnya ada Egy Maulana Vikri, Witan Sulaiman, dan Brylian Aldama yang juga sempat merumput di benua biru.
Egy Maulana Vikri pernah bermain di Lechia Gdansk (Polandia), FK Senica (Slovakia), dan FC ViOn (Slovakia). Dari ketiganya, hanya di FK Senica ia mendapat menit bermain signifikan—26 kali tampil dengan torehan dua gol dan empat assist.
Sementara Witan Sulaiman, kelahiran 8 Oktober 2001, memulai karier di PSIM Yogyakarta sebelum meniti jalan ke Eropa bersama FK Radnik Surdulica, Lechia Gdansk, dan AS Trencin. Pada 2023, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Persija Jakarta.
Adapun Brylian Aldama bergabung dengan klub HNK Rijeka (Kroasia) pada awal 2021 ketika usianya baru 18 tahun, menandai langkah awalnya merintis karier di Eropa. (*)
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya






