Malang (beritajatim.com) – Sekolah Rakyat di Malang telah mulai beraktivitas sejak Senin (14/7/2025) lalu. Senyum terpancar dari puluhan siswa dan wali yang hadir di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, di BPSPDM Jatim, jalan Kawi.
Senyum mereka disambut dengan sapaan hangat oleh kepala sekolah (kepsek) SRMA 22, Rahmah Dwi Nor Wita Imtikhanah, S.Pd, M.Sc. Ia membawa visi yang melampaui sekadar kegiatan belajar-mengajar. Baginya, sekolah ini bukan lembaga amal, melainkan sebuah lokomotif pemberdayaan untuk transformasi finansial dan sosial bagi anak-anak yang termarjinalkan.
“Saya ingin ini menjadi sekolah yang humanis,” ujar Wita, sapaan akrabnya, saat ditemui di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur, Malang.
Visi humanis yang ia usung sederhana namun mendalam: membuat 75 siswa angkatan pertama merasa nyaman, dihargai, dan dimanusiakan. “Bahwa mereka juga berhak untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, berhak untuk hidup, dan berhak untuk sukses.”
Sebelum di SRMA 22 ini, Wita mengajar di SMA Negeri 5 Malang. Untuk pengalaman, ia lama berkecimpung di dunia kesiswaan. Selain itu, ia juga mengambil master di bidang sosial pendidikan. Dua hal itu sedikit banyak membantu untuk membentuk pola pikir mengenai pendidikan di sekolah rakyat.
SRMA 22 Malang, yang gedungnya dibangun oleh Kementerian PUPR, adalah program baru yang menyasar anak-anak dengan latar belakang khusus. Wita menjelaskan, tantangan terbesarnya adalah tidak adanya model peran (role model) yang bisa dijadikan acuan.
“Ini berbeda dengan SMK, berbeda dengan sekolah biasa, berbeda dengan sekolah asrama. Yang kita hadapi adalah anak-anak spesial yang membutuhkan kasih sayang lebih,” tuturnya.
Meski demikian, mantan pengajar di SMA Negeri 5 Malang ini tidak gentar. Ia percaya pada soliditas tim pengajar yang telah melalui seleksi ketat oleh Kementerian Sosial, di mana empati menjadi kriteria utama.
Berbekal latar belakang pendidikan magister di bidang sosial pendidikan dan pengalaman panjang di dunia kesiswaan, Wita menolak model sekolah yang bersifat top-down. Ia mengusung konsep pendidikan partisipatif, di mana program sekolah dirancang berdasarkan aspirasi dan kebutuhan siswa.
“Kalau ditanya apa ekstrakurikulernya di SRMA 22 ini, saya belum bisa menjawab. Saya akan meminta anak-anak dulu, mereka mau apa. Program akan kita adakan sesuai keinginan mereka,” jelasnya.
Lebih jauh, Wita memimpikan SRMA 22 sebagai sekolah yang transformatif. Transformasi yang dimaksud memiliki dua pilar utama. Pertama, transformasi ekonomi. Para siswa dididik untuk memiliki keterampilan yang dapat mengangkat derajat finansial keluarga mereka.
“Bagaimana mereka bisa merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik,” katanya.
Kedua, transformasi sosial. Dengan naiknya status ekonomi, diharapkan status sosial para siswa dan keluarganya di tengah masyarakat juga ikut terangkat. Wita melihat SRMA sebagai jawaban atas pengastaan dalam dunia pendidikan Indonesia yang selama ini ia saksikan.
Perjalanan SRMA 22 Malang hingga bisa beroperasi penuh tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Wita mengakui sempat khawatir saat melihat beberapa fasilitas pendukung belum lengkap. Namun, kekhawatiran itu sirna berkat gotong royong lintas dinas dan kementerian yang memastikan sekolah siap menyambut para siswa.
“Alhamdulillah hari ini anak-anak sudah datang, bisa menginap, bisa nyaman, bercengkrama dengan fasilitas yang telah dibantu oleh beberapa pihak. Memang beberapa dinas ini bersinergi untuk berjalannya sekolah rakyat,” ungkapnya lega.
Dengan tiga rombongan belajar yang masing-masing diisi 25 siswa, SRMA 22 Malang memulai babak barunya. Wita berharap, sekolah ini tidak hanya berhasil di Malang, tetapi juga menjadi model pendidikan alternatif yang bisa direplikasi di seluruh Indonesia.
“Harapan saya, sekolah rakyat ini menjadi sebuah pendidikan alternatif bagi rakyat yang kurang mampu, sehingga bisa menaikkan taraf hidupnya,” tutup Wita. (dan/but)






