Malang (beritajatim.com) – Di tengah geliat pembangunan dan gaya hidup serba cepat, Kota Malang masih menyisakan ruang untuk bernostalgia melalui cita rasa tradisional yang hangat. Salah satu titik temu antara masa lalu dan masa kini itu dapat ditemukan di Pasar Klojen, pasar rakyat yang bertransformasi menjadi destinasi kuliner unggulan.
Terletak di Jalan Cokroaminoto, Kecamatan Klojen, Pasar Klojen kini bukan hanya sekadar tempat belanja kebutuhan pokok. Sejak proses revitalisasi yang dimulai pada 2018, pasar ini menjelma menjadi ruang publik yang nyaman, bersih, dan tertata rapi, layaknya food court modern. Namun, yang membuat pasar ini istimewa adalah semangat mempertahankan kuliner khas tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Warisan Rasa Pecel Mbak Sri yang Melegenda
Salah satu daya tarik utama di Pasar Klojen adalah lapak Pecel Klojen Mbak Sri. Berada di salah satu sudut pasar, lapak ini dikelola oleh Mujiasri, generasi kedua dari keluarga pedagang yang telah lama dikenal sebagai penjaga cita rasa pecel khas Malang.
Menu pecel di sini disajikan dengan pincuk daun pisang dan bumbu kacang yang gurih serta pedasnya bisa disesuaikan. Aneka lauk seperti sate daging, empal suwir, dan rempeyek menjadi pelengkap yang memanjakan lidah. Harga seporsi nasi pecel pun sangat ramah di kantong, hanya sekitar Rp15.000.
Tidak mengherankan jika pelanggan harus datang pagi-pagi. “Biasanya jam 10 sudah habis,” ujar Marni (27), pedagang risoles yang lapaknya tak jauh dengan dengan Mbak Sri. Warung ini buka mulai pukul 07.00 WIB dan menjadi salah satu destinasi kuliner paling diburu di pagi hari.
Di sisi lain pasar, aroma kopi yang menggoda mengundang langkah pengunjung menuju Toko Kopi Abah. Kopi dengan harga merakyat yang berpadu dengan suasana keramaian pasar di pagi hari.
Tak hanya itu, pasar Klojen menjadi ladang nostalgia bagi pencinta jajanan pasar. Di antara lorong-lorongnya yang bersih dan teratur, tersedia berbagai makanan ringan dan kudapan khas Indonesia, antara lain:
Onde-onde dan Lumpur Bakar, jajanan lawas yang masih jadi favorit lintas generasi. Lumpur bakar, misalnya, menjadi legenda tersendiri karena teksturnya yang lembut dan rasa manis gurih yang unik.

Kue Putu dan Pao Klojen, jajanan tradisional yang banyak diburu karena kenyal, hangat, dan manis, cocok sebagai camilan atau oleh-oleh. Bakso Goreng dan Pisang Goreng Tusuk: makanan ringan yang disajikan dengan cara khas Malang, renyah di luar dan lembut di dalam.
Harga-harga makanan di Pasar Klojen pun sangat terjangkau, mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000, menjadikannya lokasi favorit baik bagi pelajar, wisatawan, maupun warga lokal.
Pasar Klojen terletak kurang dari 1 kilometer dari Kantor Balai Kota Malang dan hanya sekitar 1,5 km dari Alun-Alun Kota. Akses menuju pasar sangat mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi, mulai dari angkot jalur MM, ojek online, hingga kendaraan pribadi. Fasilitas parkir tersedia dan cukup memadai, menjamin kenyamanan pengunjung yang datang dari luar daerah.
Pasar yang Menjadi Pusat Interaksi Sosial
Lebih dari sekadar pusat kuliner, Pasar Klojen kini juga menjadi ruang interaksi sosial. Suasana akrab yang terbangun antara pedagang dan pembeli menjadi salah satu daya tarik utamanya.
Pasar Klojen adalah destinasi wajib bagi siapa saja yang ingin menikmati cita rasa khas Malang dalam suasana pasar yang bersih, ramah, dan penuh cerita. Perpaduan kuliner tradisional dengan nuansa modern menjadikan pasar ini jadi tempat merasakan kehangatan dan kekayaan budaya lokal. [dan/aje]






