Ponorogo (beritajatim.com) – Per 14 Juli 2025, tercatat ada 112,42 hektare lahan tanaman padi di Kabupaten Ponorogo yang dilaporkan rusak akibat serangan hama wereng. Di mana kerusakannya terbagi dalam beberapa klasifikasi, ada yang rusak sedang, berat, juga ringan. Bahkan ada juga yang gagal panen 100 persen.
“Rusak itu, terbagi dalam beberapa klasifikasi, ada yang rusak sedang, berat, juga ringan, ada juga yang gagal panen 100 persen,” kata Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Supriyanto, ditulis Rabu (16/7/2025).
Kondisi ini menempatkan Ponorogo dalam situasi darurat pengendalian hama, terutama di sentra-sentra produksi padi. Berdasarkan data dari Dispertahankan Ponorogo, serangan wereng tersebar di 45 desa yang tersebar di 12 kecamatan, terutama di wilayah barat, utara, dan kawasan sekitar kota. Dari total luas lahan terdampak, sekitar 4,15 hektare sudah dinyatakan puso alias gagal panen total.
Dispertahankan Ponorogo juga mencatat, setidaknya 800 hektare sawah lain berada dalam status rawan serangan wereng. Hal ini tentu berpotensi untuk memperbesar risiko gagal panen massal, bila pengendalian tak dilakukan serentak dan menyeluruh.
“Kami tanggulangi secara bersamaan agar tidak ada wereng yang pindah ke lahan lain yang belum disemprot,” kata Supriyanto.
Hama wereng memang sangat meresahkan. Meskipun usianya hanya berkisar 30 hari, satu ekor induk mampu memproduksi 200 hingga 900 telur. Setelah disemprot pestisida pun, banyak wereng yang masih bertahan dengan bersembunyi di sela batang bawah tanaman padi.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat sawah yang terserang sebagian besar merupakan lahan pertanian produktif. Jika dibiarkan, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga pasokan beras lokal terancam terganggu.
“Kami berupaya bergotong – royong dengan penyemprotan massal untuk menekan hama wereng,” pungkasnya. [end/aje]






