Gresik (beritajatim.com)– PT Freeport Indonesia (PTFI) menggagas praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat atau yang dikenal Waste for Waste untuk sembilan desa di sekitar area operasi Smelter PTFI di Kawasan JIIPE, Gresik, Jawa Timur.
“Program Waste for Waste ini bisa dikatakan sangat unik sekaligus sangat menarik. Kami sangat senang berkolaborasi bersama masyarakat di sekitar area smelter untuk mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat,” kata Environment & Sustainable Development Manager Smelter PTFI, Emily Muteb, Senin (10/6/2024).
Ia menjelaskan, pertama, program ini menumbuhkan perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi, mendaur ulang, dan memanfaatkan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Kedua, masyarakat mendapat keleluasaan untuk berinovasi dan mencurahkan ide-ide kreatif mereka untuk model pengelolaan sampah sendiri.
“Ketiga, program ini berjalan karena pendanaan yang berasal dari sampah sehingga kami menyebutnya Waste for Waste,” paparnya.
Ia menambahkan, dalam pendanaan program Waste for Waste berasal dari hasil nilai manfaat sampah atau limbah pembangunan smelter PTFI yang dikelola oleh Pusat Transformasi Bersama (PTB).
PTB merupakan kolaborasi Yayasan Takmir Masjid Jami Manyar (Yatamam) dengan operator Raya Manyar Persada (RMP). PTB berfungsi sebagai tempat pengelolaan sampah daur ulang sementara (Temporary Recyclable Waste Transfer Facility) untuk proyek pembangunan Smelter PTFI di Manyar, Gresik.
“Limbah pembangunan smelter seperti kayu, besi, kabel, atau sampah bernilai lainnya, ditransformasikan melalui PTB untuk mendapatkan nilai tambah. Manfaat dari nilai tambah digunakan untuk mendukung program Waste for Waste. Jadi dari sampah pembangunan di transformasi menjadi pengelolaan sampah masyarakat sembilan desa di area smelter,” imbuh Emily Muteb.
Adapun untuk menjalankan program ini, PTFI menggandeng Wahana Edukasi Harapan Alam Semesta (Wehasta), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan.

“Permasalahan sampah masih menjadi polemik di Kabupaten Gresik. Apalagi, dampak sampah bagi lingkungan dan kesehatan juga sangat besar,” tutur Koordinator Wehasta Wahyu Satrio Aulia.
Berdasarkan pemantauan Uli, sapaan akrab Aulia, sampah bertaburan di mana-mana. Baik sudut-sudut desa, di sungai, dan lahan kosong. Pengelolaan sampah menurut dia, tidak hanya menjadi tugas pemerintah daerah setempat. Peran aktif masyarakat juga penting dalam menjaga lingkungannya agar bersih dari sampah.
“Maka penting memberikan dorongan dan stimulus kepada masyarakat agar mereka dapat menjalankan program pengelolaan sampah secara mandiri,” ungkapnya.
Melalui program Waste for Waste ini, lanjutnya, diharapkan akan tumbuh kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memilah sampah dari rumah tangga. Sekaligus juga mengurangi sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di masing-masing desa.
Ia menyatakan dalam program Waste for Waste ini pertama-tama dilakukan asesmen kepada sembilan desa untuk mencari tahu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang cocok diterapkan di masing-masing desa.
Sebanyak sembilan desa tersebut adalah Manyarejo, Manyar Sidomukti, Manyar Sidorukun, Banyuwangi, Karangrejo, Bedanten, Mengare Watu Agung, Mengare Kramat, Mengare Tajung Widoro.
“Setiap desa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting untuk memberikan ruang bagi masyarakat desa untuk berinovasi dan menemukan solusi yang paling sesuai dengan kondisi setempat,” ungkap Wahyu Satrio Aulia.

Terdapat empat model pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di tiap desa sesuai kebutuhan dan kondisi di masing-masing, antara lain:
1. TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle)
Program TPS3R merupakan program pengelolaan sampah melalui pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dipisahkan agar material-material yang dapat didaur ulang diproses lebih lanjut sehingga dapat digunakan kembali atau dijual ke pasar daur ulang. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, pakan ternak, atau diolah dalam bentuk lainnya.
2. Bank Sampah
Program Bank Sampah merupakan inisiatif yang dimulai dengan pengumpulan sampah. Masyarakat di rumah masing-masing melakukan aktivitas pemilahan dan menyerahkannya ke Bank Sampah terdekat. Sampah yang telah terkumpul di bank sampah akan dikelompokkan lebih lanjut ke dalam beberapa kategori, seperti plastik, kertas, kaca, dan logam.
3. Rumah Kompos
Dalam program ini, warga mengumpulkan sisa makanan, daun kering, dan bahan organik lainnya yang biasanya akan menjadi sampah. Sampah organik ini kemudian dipisahkan dan diolah dalam proses pengomposan di rumah kompos. Selama proses pengomposan, bahan organik mengalami dekomposisi alami dan berubah menjadi pupuk organik yang sangat berguna untuk pertanian dan kebun.
4. Komposter Komunal
Program ini bertujuan untuk mengelola dan mendaur ulang sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan organik lainnya dari rumah tangga. Melalui program Komposter Komunal, masyarakat secara mandiri mengurangi timbunan sampah dan menciptakan pupuk organik yang bermanfaat.
“Selain empat program di atas, masing-masing desa juga bisa menyampaikan ide-idenya untuk mengelola sampah. Ini bagian dari penanaman rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat terhadap pengelolaan sampah di desanya sendiri sehingga diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku dan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” pungkas Uli. [ADV/dny/beq]






