Surabaya (beritajatim.com) – Frozen shoulder, kondisi sendi bahu yang kaku dan menyakitkan, ternyata lebih rentan dialami oleh perempuan aktif.
Prof.(C) Dr. G. Ruslan Nazaruddin Simanjuntak, dokter ahli ortopedi dari ALTY Orthopaedic Hospital Malaysia, mengungkapkan bahwa 6 persen perempuan berisiko mengalami frozen shoulder, lebih tinggi dibandingkan pria.
“Aktivitas seperti menggendong anak atau membawa tas berat dapat menjadi pemicu frozen shoulder pada perempuan,” jelas Prof. Ruslan saat ditemui di salah satu hotel di Surabaya, Senin (1/7/2024).

Prof. Ruslan juga menyoroti perbedaan perilaku antara pria dan wanita dalam menghadapi frozen shoulder. Dia mengatakan perempuan cenderung lebih cepat mencari bantuan medis saat mengalami gejala awal. Sedangkan pria sering kali menunda hingga kondisi memburuk
“Gejala awal berupa rasa tidak nyaman di bahu, yang jika diabaikan dapat berkembang menjadi kekakuan yang mengganggu aktivitas sehari-hari,” kata dia.
Penanganan frozen shoulder meliputi manipulasi sendi, terapi fisik, dan injeksi untuk mengurangi peradangan. Biaya manipulasi sendi di ALTY Orthopaedic Hospital Malaysia berkisar 7-8 ribu ringgit, termasuk fasilitas rawat inap.
“Penting untuk tidak mengabaikan rasa sakit atau kekakuan pada bahu, terutama jika berlangsung lebih dari sebulan,” tegas Prof. Ruslan.
“Segera konsultasikan ke dokter spesialis ortopedi untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat,” tambah dia.
Selain faktor aktivitas, penyakit diabetes dan riwayat cedera juga dapat meningkatkan risiko frozen shoulder. Prof. Ruslan menekankan pentingnya menjaga pola makan sehat dan mengontrol gula darah bagi penderita diabetes untuk mencegah komplikasi pada sendi.
“Diabetes adalah penyakit ibu dari segala penyakit. Jika tidak dikontrol, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kerusakan sendi,” pungkasnya. [asg/ian]






