Madiun (beritajatim.com) — Bagi pecinta kopi di Caruban, nama Warung Kopi Mbah Noning sudah tidak asing lagi.
Berlokasi di Kelurahan Krajan, Caruban, Kabupaten Madiun, warung sederhana ini dikenal sebagai tempat ngopi legendaris yang sudah bertahun-tahun menjadi jujugan warga sekitar maupun pendatang.
Warung ini buka mulai pukul 04.00 pagi hingga 11.00 siang, sehingga cocok menjadi tujuan sarapan atau sekadar menikmati kopi di pagi hari.
Soal harga, Warung Mbah Noning sangat bersahabat. Secangkir kopi hanya Rp2.000, sementara aneka kudapan tradisional bisa dinikmati mulai dari Rp1.000 saja.
Tak heran, warung ini selalu ramai. Apalagi menu andalan seperti jadah goreng dan jadah original yang legit gurih membuat banyak orang ketagihan.
Tiga Generasi, Satu Warung Legendaris
Sejarah panjang warung kopi ini dimulai dari Mbah Sariyem sebagai generasi pertama. Usaha kemudian diteruskan oleh Mbok Dunuk di generasi kedua, dan sejak akhir tahun 1970-an dikelola oleh Suparno sebagai generasi ketiga.
Namun, Suparno sendiri mengaku tidak ingat persis kapan warung kopi ini pertama kali berdiri. Yang jelas, warung sudah ada sejak masa kakeknya, jauh sebelum tahun 1979.

Menariknya, nama “Noning” punya kisah unik. Pada masa awal berdirinya, selain menjual kopi, sang ibu juga berjualan jagung goreng atau merning. Kala itu, ada seorang anak tetangga yang jika ditanya hendak pergi ke mana, menjawab dengan bahasa cadel, “Noning,” maksudnya pergi ke warung untuk membeli merning. Sejak saat itulah sebutan “Noning” melekat, hingga akhirnya dipakai menjadi nama warung kopi ini sampai sekarang.
“Bagi saya, warung ini bukan sekadar tempat jualan, tapi juga warisan keluarga yang harus dijaga. Dari kakek, ibu, sampai sekarang saya, semuanya punya peran. Yang penting rasanya tetap sama, murah, dan orang-orang merasa nyaman singgah di sini,” ujar Suparno, pengelola generasi ketiga Warung Kopi Mbah Noning.
Lebih dari sekadar usaha keluarga, warung ini juga menyimpan banyak kenangan bagi warga sekitar. Suparno bahkan bercerita kepada penulis bahwa almarhum Mbahmu (Mbah Surotamin) dan almarhum bapakmu pun sering ngopi di sini.
Artinya, warung ini bukan hanya saksi perjalanan sebuah keluarga, tetapi juga bagian dari sejarah hidup banyak orang di Caruban.
Meski berganti generasi, cita rasa khas warung tetap terjaga. Resep kopi dan jadah diwariskan turun-temurun, membuat pelanggan lama maupun baru tetap betah singgah.
Menariknya, meski tidak menyediakan fasilitas WiFi, justru inilah yang membuat suasana kian akrab. Semua pelanggan bercengkrama langsung, berbagi cerita, hingga menambah teman baru. Dari petani, pedagang, pegawai, hingga anak muda, semua larut dalam obrolan hangat sembari menyeruput kopi panas.(rbr/ted)






