Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejumlah warga Desa Sumuragung, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro melakukan cosplay berlumur debu. Hal itu merupakan penggambaran kondisi setiap hari yang dialami oleh warga sekitar tambang batu gamping di desa setempat.
Salah seorang warga Desa Sumuragung Kecamatan Baureno, Solik mengatakan, aksi teaterikal berlumur debu itu merupakan penggambaran yang dialami setiap hari oleh masyarakat sekitar tambang batu gamping. Apalagi, wilayah operasi penambangan itu sangat dekat dengan permukiman warga.
“Jarak rumah paling dekat dengan wilayah penambangan batu gamping yang dilakukan oleh PT Wira Bhumi Sejati ini sangat dekat. Rumah paling dekat hanya berjarak sekitar 20 meter, diantaranya milik Alm Maksum dan Sukardi,” ujarnya, Kamis (12/10/2023).
Daerah yang paling dekat dengan lokasi galian batu gamping berada di RT 8 dan 9 Desa Sumuragung. Dalam setiap RT diperkirakan ada sekitar 50 kepala keluarga (KK). Namun, sejak PT Wira Bhumi Sejati (WBS) beroperasi tidak pernah ada kompensasi bagi warga yang terdampak.
“Tidak pernah dapat kompensasi dari PT WBS, hanya mendapat beras 15 kg, sejak 2016 sampai sekarang. Sebenarnya kalau dari perusahaan katanya ada bantuan, tapi tidak tersalur ke masyarakat,” terangnya.
Menurutnya, informasi yang diterima warga, akumulasi kompensasi dari perusahaan PT WBS sejak 2016 hingga 2023 ada sekitar Rp4,7 miliar. Namun, dana tersebut diduga tidak sampai kepada masyarakat.
Baca Juga:
Polisi Belum Tetapkan Tersangka Insiden Kecelakaan di Bojonegoro yang Diduga Pengemudi Mabuk
Selain debu, lanjut Solik yang disambung oleh warga lain, dampak penambangan batu gamping di Sumuragung juga berpengaruh terhadap berkurangnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat dan juga dampak lingkungan yang menyebabkan sumber mata air berkurang.
“Sumber mata air di Nguwok sudah habis, debit berkurang. Sekarang warga tidak bisa mengambil batu dari wilayah setempat dan beralih mencari mata pencaharian lain,” sambungannya.
Dulu, cerita dari warga, sebelum ada aktifitas penambangan, warga masih bisa mengambil batu gamping secara tradisional. Sekarang, warga harus beralih mencari mata pencaharian lain, seperti berjualan, maupun bertani. “Bertani pun sulit, karena aksesnya ditutup untuk akses tambang,” terangnya.
Sementara Solik mengaku, jarak antara rumahnya dengan lokasi penggalian tambang batu gamping itu hanya sekitar 50 meter. Sedangkan kedalaman tambang sendiri digali hingga kedalaman antara 30 sampai 37 meter.
Sementara diketahui, aksi teaterikal dan cosplay berlumur lumpur itu dilakukan warga di depan Kantor Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro. Aksi tersebut dilakukan bersamaan dengan agenda sidang terhadap tiga terdawkwa dari warga Sumuragung yang melakukan aksi demo dan berujung dipidanakan.
Tiga terdakwa yang dipidanakan itu yakni, Isbandi, Akhmad Imron dan Suparno. Ketiganya sekarang menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi. Saksi yang diperiksa oleh Majelis Hakim PN Bojonegoro dihadirkan dari Kepala Desa Sumuragung Matasim dan Sekdes Sumuragung Muhammad Irwan Purwanto.
Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Nalfrijhon, dan dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bojonegoro Dekri Wahyudi, serta ketiga terdakwa yang didampingi Penasehat Hukumnya, Ahmad Muas. Hingga berita ini ditulis, proses persidangan masih berlangsung. [lus/ted]






