Surabaya (beritajatim.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuch (Gus Maftuh), menyampaikan pandangannya terkait dinamika kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU).
Ia menilai, warga nahdliyin saat ini merindukan sosok pemimpin yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kezuhudan sebagai ‘kiai langit’.
Menurut Gus Maftuh yang juga merupakan Ketua Panitia Pra MLB Muktamar Luar Biasa NU, figur kiai langit yang dimaksud adalah sosok ulama yang tidak terjebak dalam kepentingan duniawi, melainkan istiqomah dalam menjaga nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada umat.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut KH. Maksum Faqih dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban, sebagai sosok yang layak dipertimbangkan.
“Warga NU rindu dipimpin oleh kiai langit yang zahid, yang tidak hanya cakap secara keilmuan, tetapi juga memiliki keteladanan akhlak dan spiritual. Gus Maksum Faqih Langitan adalah salah satu sosok yang tepat,” ujar Gus Maftuh.
Ia menambahkan, KH. Maksum Faqih dikenal sebagai figur yang dekat dengan tradisi pesantren, memiliki kedalaman ilmu agama, serta menjaga warisan nilai-nilai ulama salaf.
Hal tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memimpin organisasi sebesar NU yang memiliki basis kultural dan spiritual yang kuat.
Gus Maftuh juga menyebut bahwa nama Gus Maksum mulai diperbincangkan sebagai alternatif figur baru dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Di tengah berbagai dinamika yang ada, kehadiran figur yang fresh dan berakar kuat pada tradisi dinilai menjadi harapan baru bagi warga nahdliyin.
“Gus Maksum merupakan alternatif figur baru yang fresh. Beliau punya kapasitas, punya keteladanan, dan yang paling penting, dipercaya oleh warga nahdliyin,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan NU ke depan membutuhkan sosok yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan tantangan zaman, tanpa kehilangan ruh keulamaan yang menjadi fondasi utama organisasi.
Gus Maftuh berharap proses regenerasi kepemimpinan di tubuh NU dapat berjalan secara sehat, demokratis, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keulamaan serta kebersamaan umat.
“NU butuh pemimpin yang bukan hanya organisatoris, tapi juga spiritualis. Sosok yang mampu menjadi panutan, bukan sekadar pemimpin administratif,” pungkasnya. (tok/ted)






