Mojokerto (beritajatim.com) – Warga Gang Puskesmas RT 25 RW 9, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, punya cara unik memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka membangun gapura setinggi hampir lima meter dari seng bekas dengan mural penuh pesan antikorupsi dan kritik terhadap pemerintah.
Gapura berbentuk huruf ‘U’ terbalik itu berdiri tepat di mulut gang yang berada di jalur nasional Surabaya – Madiun. Di sebelah timurnya berbatasan dengan pagar Puskesmas Sooko, sedangkan sisi baratnya berhimpitan dengan warung penjual es degan. Rangka gapura terbuat dari bambu yang dilapisi seng-seng bekas hasil swadaya warga.
Mural Kritik dan Lukisan Pahlawan
Pada kedua pilar gapura, warga menghiasinya dengan mural bernuansa kritik. Ada gambar tikus berdasi sebagai simbol korupsi, otak penuh uang, hingga pesan-pesan moral tentang keadilan. Serta gambar simbol sila-sila dalam Pancasila, sementara di bagian atas gapura tertera tulisan ‘Indonesia 80’.
Tak hanya gapura, tembok warga yang berada di samping gapura juga ikut dilukis. Anggota Karang Taruna setempat menggambar 11 tokoh pahlawan nasional, mulai dari Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Bung Tomo, hingga ilustrasi yang merefleksikan nilai-nilai nasionalisme.
“Semua lukisan dikerjakan oleh warga dan anak-anak Karang Taruna sini sendiri. Mulai dari gambar pahlawan sampai mural tikus berdasi itu murni ekspresi mereka. Gapura dan lukisan itu murni dari aspirasi warga,” kata Ketua RT 25, Basuki (48).
Simbol Kerentanan dan Aspirasi Warga
Basuki menjelaskan, penggunaan seng bekas yang berkarat menjadi simbol bahwa kondisi bangsa Indonesia meski sudah 80 tahun merdeka tetapi masih rapuh. “Gapura ini bukti bahwa barang rosok bisa jadi simbol aspirasi. Rapuhnya seng itu sama dengan rapuhnya keadaan negeri ini,” ujarnya.
Pembuatan gapura dilakukan secara gotong royong. Prosesnya memakan waktu satu hari satu malam, sementara mural tembok juga dikerjakan dalam satu hari. Biaya pembangunan mencapai sekitar Rp1,5 juta untuk gapura dan Rp3,3 juta untuk mural tembok atau Rp300 ribu per kotak.
“Dana dikumpulkan dari iuran warga, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per orang. Untuk barang bekas seperti seng bekas itu juga murni dari warga, langsung ke rumah warga. Yang punya langsung kasih, ada yang motong bambu untuk rangka gapuranya, ada yang nyumbang gorengan, kopi,” tuturnya.
Kritik atas Bantuan Sosial
Lewat gapura tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi soal ketidakadilan bantuan sosial (bansos). Menurut Basuki yang baru menjabat beberapa bupan menjadi Ketua RT, masih ada sekitar 6–7 Kepala Keluarga (KK) di lingkungannya yang tidak mendapat bantuan, meski tergolong kurang mampu.
“Harapan saya, pemerintah lebih adil. Banyak warga miskin yang tidak kebagian bantuan, padahal sangat membutuhkan. Sementara yang mampu justru dapat, pas warga menerima bantuan, mereka hanya hanya bisa benggong. Itu yang kami suarakan lewat karya ini,” tegasnya.
Basuki berharap bansos yang diberikan kepada masyarakat tepat sasaran dan berharap masyarakat yang sudah tidak layak mendapatkan bansos bisa legowo.
Tanpa Lomba, Murni Inisiatif Warga
Tidak ada lomba resmi yang melatarbelakangi pembuatan gapura tersebut. Ide muncul secara spontan dari warga yang ingin memperingati HUT RI dengan cara berbeda. Di RT 25 RW 9 sendiri terdapat 95 kepala keluarga.
“Tidak ada lomba. Kami kerjakan bersama-sama, ada yang bawa gorengan, ada yang nyumbang cat. Semua dikerjakan dengan semangat gotong royong. Dengan semangat kebersamaan, warga berharap pesan yang mereka tuangkan dalam gapura dan mural ini bisa menjadi perhatian pemerintah,” tegasnya. [tin/kun]






