Gresik (beritajatim.com) – Masyarakat Gresik mengaku senang bisa membeli bahan pokok dengan harga murah saat operasi pasar di Kantor Pos di tengah Bulan Ramadan, Jumat (14/3/2025). Program ini membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Salah satu warga yang merasakan manfaatnya adalah pasangan suami istri (pasutri) Supriyanto (60) dan Sulastri (53) asal Kebomas, Gresik. Mereka rela mengantre demi mendapatkan sembako murah dibanding harga di pasar.
“Ini saya dan istri membeli beras, telur, dan gula pasir. Harganya jauh lebih murah bila membeli di pasar,” ujar Supriyanto.
Pasutri tersebut merupakan contoh masyarakat yang memanfaatkan operasi pasar melalui Agri Pos. Untuk membeli bahan pokok ini, setiap warga wajib menyertakan KTP sebagai syarat pembelian.
“Setiap pembelian, satu KTP maksimal boleh membeli dua produk. Misalnya, kalau beras dua paket, begitu juga kalau minyak dan seterusnya. Ini sangat membantu di Bulan Ramadan,” ungkap Sulastri.
Sebelum warga membeli, pihak Kantor Pos Gresik (Agri Pos) menempelkan daftar harga sejumlah bahan pokok, seperti beras SPHP Rp 12 ribu per kilogram, gula pasir Rp 15 ribu per kilogram, MinyaKita Rp 14.700 per liter, bawang putih Rp 32 ribu per kilogram, dan daging ayam ras beku Rp 34 ribu per kilogram.
Direktur Bisnis Kurir dan Logistik PT Pos Indonesia (Persero), Tonggo Marbun, mengatakan bahwa operasi pasar berlangsung mulai 24 Februari hingga 29 Maret 2025.
“Saat ini jaringan kami ada 2.258 titik yang melayani operasi pasar sampai akhir Ramadan. Intinya, kami berkomitmen membantu pemerintah memastikan kestabilan harga serta ketersediaan pangan di masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa setiap harinya banyak masyarakat yang memanfaatkan operasi pasar murah ini. Pasalnya, kebutuhan bahan pokok disediakan di bawah harga eceran tertinggi (HET).
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan bahwa operasi pasar merupakan kebijakan pemerintah agar masyarakat bisa membeli bahan pokok dengan harga terjangkau.
“Kami menggandeng lintas kementerian, termasuk BUMN pangan serta Pos Indonesia terkait penyaluran dan ketersediaan bahan pokok. Jadi masyarakat tak usah khawatir harga melambung tinggi di tengah Bulan Ramadan,” jelasnya.
Terkait maraknya MinyaKita yang sempat tidak sesuai takaran, Dyah Roro Esti mengaku prihatin dan menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran tersebut.
“Sudah ada sanksinya, dan Kementerian Perdagangan akan terus mengawasi bahan pokok yang tidak sesuai HET-nya,” pungkasnya. [dny/beq]






