Bojonegoro (beritajatim.com) – Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro drh Lutfi Nurrahman mengimbau kepada warga yang memiliki hewan ternak seperti sapi yang menunjukkan gejala penyakit mulut dan kuku (PMK) agar segera melapor ke petugas terdekat.
“Segera lapor petugas peternakan kecamatan bila ternaknya menunjukkan gejala sakit, seperti nafsu makan turun, mbeler hidungnya, air liur berlebihan, maupun pincang,” imbuh Lutfi, Minggu (12/1/2025).
Selain beberapa gejala di atas, sapi ternak yang terindikasi PMK juga memiliki ciri diantaranya demam tinggi, sekitar 39–41°C, melepuh atau luka berisi cairan pada lidah, gusi, hidung, tercak, atau kuku, keluar air liur berlebihan (hipersalivasi), hilang nafsu makan, bibir bergetar dan mulut berbusa, penurunan berat badan, serta berkurangnya produksi susu akibat mastitis.
“Jika seperti itu, ternak jangan dimandikan dulu, diberi penghangat/bediang, tidak melihat ternak yang sakit, tidak melalulintaskan atau jual beli ternak yang sakit, diberi minum air hangat, bisa pakai ramuan tradisional untuk minum (kunyit, madu, jeruk nipis),” ungkapnya.
Meski sudah ada beberapa hewan ternak yang mati dengan indikasi terkena PMK, pihaknya belum bersedia memberikan data sebaran hewan ternak yang sudah terjangkit PMK. Dalihnya masih dalam penanganan dan rekapitulasi.
Data yang dikumpulkan beritajatim.com, kasus kematian sapi akibat dugaan PMK dari beberapa desa di Bojonegoro Totalnya mencapai 33 ekor, termasuk 11 ekor sapi di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, yang mati dalam periode Desember 2024 hingga awal Januari 2025.
Disnakkan mengaku, dalam melakukan pencegahan mewabahnya PMK di Kabupaten Bojonegoro dengan melakukan penyemprotan disinfektan ke kandang-kandang sapi maupun di pasar hewan yang bekerja sama dengan pihak BPBD Bojonegoro dan instansi lain, seperti TNI/POLRI. [lus/aje]






