Blitar (beritajatim.com) – Sejak beberapa tahun terakhir, puluhan kepala keluarga di RT 02 RW 03 Dusun Kembangarum, Desa Kembangarum, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar tidak lagi menggunakan air sumurnya untuk keperluan minum. Ini lantaran khawatir air sumur telah tercemar limbah medis dari salah satu rumah sakit swasta yang berada di sekitar pemukiman.
Kekhawatiran warga ini bukan tanpa sebab. Jarak sumur dengan instalasi pengolahan air limbah milik RS swasta itu kurang dari 100 meter. Hal itu membuat warga khawatir air limbah medis itu akan meresap ke dalam tanah yang bisa mengalir ke sumur-sumur warga.
Beberapa warga juga bercerita, beberapa tahun lalu ada yang sempat mengalami gejala gatal-gatal usai mandi menggunakan air sumur yang lokasinya persis berada di belakang Ipal RS tersebut.
“Ya khawatirnya seperti itu, saya dulu juga sempat gatal-gatal gitu tapi ya positif thinking saja, dari situ saya sudah tidak pernah menggunakan air sumur untuk minum,” ucap Deni, warga RT 02 RW 03 Dusun Kembangarum Desa Kembangarum Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, Kamis (26/10/2023).
Lokasi rumah sakit swasta tersebut memang berada di tengah-tengah pemukiman warga. Bahkan lokasi Ipal itu, berada persis di samping rumah warga, yakni Lastri dan Sutimi.
BACA JUGA:
Kekeringan Ekstrim, Warga Blitar Selatan Antre Berjam-jam di Sumber Air
Ruangan Instalasi pengolahan air limbah milik RS swasta itu juga hanya dibatasi oleh sekat tembok. Warga pun mempertanyakan tingkat keamanan dari pengolahan limbah medis rumah sakit tersebut.
“Sekarang lo mas, rumah saya ini jaraknya dari RS dan Ipal itu kurang dari 50 meter, apa yang menjamin air limbah medis itu tidak meresap ke tanah dan masuk ke sumur, makanya saya khawatir,” imbuhnya.
Menurut warga selama ini belum ada uji laboratorium yang dilakukan oleh pihak terkait, mengenai keluhan ini. Sebetulnya warga ingin ada uji lab mengenai kandungan air sumur yang lokasinya berdekatan dengan rumah sakit.
“Belum ada lab selama ini, makanya daripada gimana-gimana saya memilih untuk tidak mengkonsumsi air sumur saya,” tegas Deni.
Sebenarnya, air sumur warga di RT 02 RW 03 Dusun Kembangarum Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar sendiri masih berwarna jernih dan juga tidak berbau. Namun karena dekatnya sumur dengan Ipal RS maka warga khawatir untuk menggunakan air tanah untuk keperluan minum.
“Sebenarnya airnya masih bersih dan tidak berbau tapi ya namanya juga berdekatan akhirnya ya takut mas,” ucap Sutimi, warga yang rumahnya berada persis di belakang RS.
BACA JUGA:
Hujan dan Banjir Jadi Ancaman Serius Pembangunan Jembatan Dawuhan Blitar
Warga pun mendesak adanya uji laboratorium. Hal itu harus dilakukan demi memastikan ada tidaknya pencemaran di air sumur warga yang lokasinya berdekatan dengan Ipal RS.
Selain itu warga juga menyayangkan sikap RS Swasta tersebut yang tergolong cuek atas komplain yang dilayangkan. Pasalnya selama pihak RS tidak pernah memberikan sosialisasi terkait pengolahan limbah medis yang dihasilkannya.
“Tidak pernah ada sosialisasi, juga tidak pernah ada kompensasi yang diberikan, paling parcel doang waktu lebaran itu, padahal saya dan anak saya ini paling terdampak lo,” ujarnya.
Sejak beberapa tahun ke belakang warga pun terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air galon demi memenuhi kebutuhan minum dan masak. Padahal sebelumnya jauh sebelum rumah sakit ini berada warga menggantungkan air sumur untuk memenuhi semua kebutuhan makan, minum serta mandi dan mencuci. [owi/beq]






