Lamongan (beritajatim.com) – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Soekarwo melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Randubener, Kembangbahu, Lamongan, Selasa (12/12/2023).
Kunker itu dilakukan dalam rangka menekankan kokohnya ketahanan pangan nasional agar kesejahteraan petani meningkat. Di kunker ini, Soekarwo mengajak Pemkab Lamongan berdiskusi soal kedelai.
Menurut Pakde Karwo, panggilan akrab Soekarwo, tantangan produksi tanaman pangan khususnya kedelai di Kabupaten Lamongan terjadi pada sarana prasarana (sarpras), hama dan harga yang fluktuatif (tidak stabil).
Oleh sebab itu, tutur Pakde Karwo, Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menjawab tantangan ke depan. Semua itu dipersiapkan untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan.
Kesejahteraan dalam hal ini ada lantaran dukungan sarana produksi pertanian dan jaminan penghasilan petani (off taker).
“Pengambil keputusan perlu melakukan perubahan, dengarkan dulu suara masyarakat apa yang menjadi kendala di lapangan, baru dibuat keputusan. Jangan kemudian dibalik mengambil keputusan, sebelum mendengarkan suara masyarakat. Karena yang tahu persis permasalahan pangan terutama kedelai itu adalah petani dan masyarakat yang ada di pertanian,” terang Pakde Karwo.
Bedasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan, diketahui bahwa produksi tanaman kedelai di Kabupaten Lamongan selama 5 (lima) tahun kebelakang relatif mengalami tren penurunan.
Pada tahun 2017, produksi kedelai lokal mampu mencapai 22.498 ton, kemudian turun menjadi 22.349 ton di tahun 2018, lalu 12.782 ton di tahun 2019, dan 8.875 ton di tahun 2020, 9.406 ton ditahun 2021, serta 10.412 ton ditahun 2022.
Penurunan produksi kedelai di atas sejalan dengan luas panen yang kian mengalami penurunan.
“Cari cara kira-kira produksinya meningkat, nanti dipimpin Pak Lurah untuk ketahanan pangan. Kedelai Lamongan turun drastis. Padahal sini (Lamongan) tanah tadah hujan, keasaman bagus, hama tidak banyak. Cara meningkatkan produksi per hektar itu gimana, dari bibit bisa disolusikan oleh DKPP Kabupaten Lamongan,” papar Pakde Karwo.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang mendampingi Pakde Karwo menyampaikan bahwa meski turun produksinya, namun analisis ketersediaan pangan komoditi kedelai di Kabupaten Lamongan mampu mencukupi 90 persen kebutuhan kedelai lokal.
Artinya, hanya 10 persen kebutuhan lainnya yang mengambil dari kedelai impor atau pasar luar.
“Kebutuhan kedelai di Lamongan dipergunakan untuk konsumsi rumah tangga, konsumsi luar rumah tangga (industri), benih, dan tercecer (saat panen). Dan ketersediaan kedelai diperoleh dari produksi lokal/panen raya di bulan Februari, Maret, April, Juli, Agustus, serta pasokan dari luar kabupaten. Di tahun 2023 proyeksi produksi kedelai sebesar 12,324 ton, kebutuhannya 16,205 ton, defisit 3.881 ton,” jelas Bupati Yuhronur.
Selain itu, lanjut Yuhronur, sebagai upaya dalam menjaga kedaulatan pangan di beberapa kecamatan, kini mulai dilakukan penanaman kedelai mulai dari Kembangbahu, Sugio, Sambeng, Mantup, Kedungpring, Modo, Babat, Lamongan, Tikung, Sarirejo, hingga lainnya.
“Untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan kedaulatan pangan, maka dari itu harus kita jaga bersama-sama, hari ini untuk persoalan kedelai di Lamongan ada sekitar 8000 hektar kurang lebih yang hari ini mulai tanam semua, khususnya di Kecamatan Kembangbahu,” bebernya.
Tidak cukup itu, tandas Yuhronur, Pemkab Lamongan terus berupaya untuk meningkatkan pengembangan kedelai melalui berbagai inovasi.
Baca Juga:
Curi Motor di Gresik, Perempuan Asal Lamongan Diringkus Polisi
Adapun inovasi itu yakni pertama Soybean village/kawasan kedelai yang menjadi pengembangan hulu hilir, mulai dari pembenihan hingga pengarahan hasil dengan harga uang kompetitif.
Kedua, pemetaan wilayah komoditas kedelai dengan database potensi spesifik lokasi dan fokus akan pengembangan kedelai (etalase kedelai Lamongan).
Ketiga, diversifikasi produk kedelai, memunculkan pilihan kompetitif produk kedelai mulai dari biji sampai limbah kedelai (zero waste biogas).
“Diskusi bersama Pakde Karwo mampu menemukan permasalahan petani. Pertama, harga jual yang sangat fluktuatif, kedua hama. Ini akan segera kita carikan solusinya, agar petani saat tanam kedelai bisa tetap eksis khususnya di Kabupaten Lamongan yang memiliki 8.000 hektar ini bisa terus kita kembangkan dengan baik,” pungkasnya.[riq/ted]






