Lamongan (beritajatim.com) – Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho, menyakini jalan di tengah Gunung Pegat di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan adalah jalur darat kuno. Dia meyakini, jalur tersebut sudah ada sebelum masa kolonial.
Meski tidak ada bukti arkeologis terkait Gunung Pegat, Wicaksono meyakini jalan tersebut merupakan jalur darat yang dihidupkan kembali untuk menghubungkan wilayah Tuban, Lamongan ke Jombang atau dari wilayah utara ke selatan.
“Kalau teks yang secara khusus menyebutkan tentang Gunung Pegat belum ada, tapi itu kita yakini sebagai jalur penghubung antara Tuban-Lamongan ke Jombang atau ke wilayah selatannya. Ini adalah jalur lama yang digunakan kembali,” ujar Wicaksono.
Wicaksono menjelaskan, berdasarkan bukti arkeologis yang ditemukan di wilayah utara, yakni Tuban, terdapat prasasti masa Airlangga. Sedangkan di wilayah selatannya, ketika itu ada Kerajaan Kahuripan.
“Pada masa Airlangga, Tuban sudah menjadi titik penting yang dibuktikan dengan temuan prasasti, maka bagaimana akses dari Kerajaan Kahuripan di selatan berhubungan dengan Tuban di utara. Tentunya ada jalur darat purba yang menghubungkan 2 hal itu. Bukti ini kemudian didukung dengan banyaknya temuan prasasti di titik Lamongan-Jombang yang kita duga adalah titik-titik yang dilalui oleh jalur purba,” terangnya.

Di sisi lain, Wicaksono menambahkan, adanya mitos tentang syarat melempar ayam bagi calon pengantin baru yang hendak melewati jalur Gunung Pegat, itu bisa jadi salah satu alasan jalur di Gunung Pegat ini disebut jalur lama. Bahkan, mitos itu masih diyakini dan bertahan hingga saat ini.
Selain itu, pihaknya menuturkan, fenomena tentang mitos yang ada di Gunung Pegat yang diambil dari cerita rakyat ini menunjukkan bagaimana masyarakat memperlakukan gunung pegat melalui ingatan-ingatan lama yang diwariskan leluhurnya.
Keberadaan mitos ini, ungkap Wicaksono, menunjukkan bagaimana masyarakat memperlakukan Gunung Pegat selalu berhubungan dengan kepercayaan lokal.
Dalam mitos itu, menunjukkan bahwa jalur gunung pegat adalah jalur lama yang pembuatannya direkayasa atau dengan cara membelah gunung. Padahal, kata Wicaksono, gunung adalah sesuatu yang sakral dalam tradisi Hindu-Buddha.

“Jadi pemutusan gunung ini dibutuhkan untuk alat transportasi ketika itu, seperti pedati dan lain sebagainya untuk lewat. Namun kapan ‘pegatan’ gunung ini terjadi? Tidak ada data yang secara spesifik menyebutnya, tapi secara teknis jalur itu memang dibutuhkan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Wicaksono berkata, hingga saat ini memang belum ada kajian terkait jalur kuno yang menghubungkan Tuban ke selatan, arah Ngimbang. Meski begitu, banyaknya temuan arkeologis di Ngimbang menunjukkan kalau di Ngimbang ini dulunya adalah jalur perdagangan.
[berita-terkait number=”2″ tag=”gunung-pegat-di-lamongan”]
“Jadi, selain melewati jalur air dengan Bengawan Solo dan Brantas, (akses wilayah utara ke selatan) juga dihubungkan dengan jalur darat melalui Gunung Pegat ini,” ucapnya.
Sebagai pembanding, Wicaksono lalu menyebut jika pembelahan gunung yang ada di Kecamatan Ngimbang juga ada, yakni Gunung Girik. Hanya saja, di Gunung Girik yang dibelah pada masa kolonial tidak muncul fenomena atau mitos seperti yang terjadi pada Gunung Pegat. Lalu juga Sungai Brantas yang direkayasa pada masa kolonial juga tidak muncul mitos semacam itu.
“Mungkin kasusnya sama seperti itu, tidak ada mitos karena masyarakat sudah jauh dari kepercayaan aslinya. Kalau itu dilakukan jauh sebelum masa kolonial, maka akan ada ‘kompensasi’ yang diterapkan seperti mitos yang kita temui sekarang ini,” jelasnya.
Terakhir, Wicaksono menegaskan, tidak semua sejarah bisa ditarik dengan bukti-bukti arkeologis, tapi nilai-nilai budaya tak benda seperti folklor atau mitos ini bisa menjadi catatan apa yang terjadi di masa lalu.
“Tidak ada asap kalau tidak ada api, tidak akan ada mitos jika tidak ada penyebabnya. Mitos itu selalu berhubungan dengan kepercayaan lokal dari jejak budaya masyarakat setempat,” pungkasnya. [riq/beq]






