Tuban (beritajatim.com) – Wanita Tuban bernama Fitrah Faradisa meraup cuan dari bisnis ecoprint. Bahkan sampai ekspor 675 buah produk ecoprint ke Jepang.
Fitrah menjelaskan ecoprint merupakan teknik mencetak dan pewarnaan menggunakan bahan alami dari lingkungan sekitar. Seni olah kain ini dilakukan dengan mencetak dedaunan, akar, bunga maupun batang pohon pada media kain yang berbahan serat alami.
“Jadi semua dari bahan alam, termasuk jenis kain kita menggunakan bahan katun atau kapas linen, serta sutra dari hewani. Termasuk di sebuah lembar kain kulit sapi atau kambing,” ucap Fitrah.
Perempuan berusia 40 tahun ini menceritakan bisnisnya dimulai pada 2018. Saat itu, dia mencoba membuat karya ecoprint dari selembar kain menggunakan cetak motif daun.
Setahun kemudian, Fitrah mencoba menyediakan berbagai macam style mulai dari atas kepala hingga kaki.
“Ada topi, baju, kemeja laki-laki, outer, gamis, jilbab, jaket, celana, tas, gantungan kunci dan sepatu. Kita juga launching peci untuk bulan Ramadan ini,” ucapnya.
Lanjut, dari awal tahun 2018 Fitrah juga mencoba mengikuti berbagai event bazar UMKM di seluruh Indonesia, bahkan mengikuti Fashion Week di Jakarta, Bali dan Yogyakarta. Menurutnya, dengan mengikuti berbagai event akan semakin dikenal tidak hanya di Tuban saja.
Baca Juga: Pentas Gamelan Tradisional Tuban Warnai Hari Musik Nasional 9 Maret
“Memang branding itu yang paling utama, bahkan pameran di Jakarta itu sewa stand bisa Rp18 juta dan itu pesertanya dari berbagai Indonesia hanya untuk branding saja,” kata Fitrah.
Semakin lama pihaknya gabung dengan ibu-ibu inspirasi yang tergabung dalam Kopernik serta mengikuti peragaan busana di berbagai daerah. Buah hasil dari branding dan peragaan busana, pada tahun 2021 ia mendapatkan pesanan dari perusahaan besar di Tokyo Jepang bernama Ricoh.com memesan sling bag dengan jumlah 675 buah.
“Itu melalui Kopernik di Bali, saya juga bersyukur bahwa usaha saya bisa sampai sejauh ini. Waktu itu juga saya memperdayakan ibu – ibu lokal saya ajari buat ecoprint terus cara cetak daunnya seperti apa,” ungkap Fitrah.
Masih kata Fitrah, bahan utama yang dia gunakan yaitu daun dan jenis-jenis daun tersebut ialah daun eucalyptus, kenikir, lanang, sidolar, vitex dan cemara angin. Sedangkan kainnya ada sateen viscose, viscose 60s, sutra, jember, tenun lurik, dan tenun ATBM.
Baca Juga: Disbudporapar Tuban: HKIK Legen Diklaim Sidoarjo Dikembalikan
“Saya biasanya nyebutnya ramban, kalau pas ramban saya cari daunnya di pinggir – pinggir jalan, sama biasanya ambil di pohon depan Rest Area Tuban, kalau di lahan milik orang gitu saya tidak berani ambil, saya juga beberapa tanam sendiri,” imbuhnya.
Namun, Fitrah juga kesulitan dimana daun yang bagus untuk ecoprint tidak ada di Tuban sehingga ia beli di Jember dan Bandung yang memang pohon tersebut hanya bisa tumbuh di hutan maupun udara dingin.
“Jadi memang ada loh supplier yang jualan daun, jadi mereka ambil di hutan Jember itu ada dan itu hanya bisa tumbuh disana, serta di Bandung juga,” kata dia.
Baca Juga: DLHP Pemkab Tuban Gencar Patroli Bersihkan Stiker
Untuk bisa membeli produk ecoprint Fitrah Faradisa mulai dari sepatu dibandrol dengan harga Rp300 ribu sampai Rp350 ribu untuk bahan kanvas, kalau kulit dimulai dari harga Rp550 ribu sampai Rp900 ribu. Sedangkan, gamis mulai dari Rp800 sampai Rp1,2 juta, tas mulai dari Rp200 ribu, jaket kemeja ada yang Rp200 sampai Rp600 ribu, tergantung dari bahan dan tingkat kerapian cetakan daunnya.
“Produk saya untuk perempuan masih tertutup ya, belum bisa buat produk celana pendek, baju-baju pendek, paling outer gitu. Sama banyak yang digemari yaitu gamis dan jilbab,” pungkasnya. [daf/beq]






