Ringkasan Berita:
- Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menegaskan standar operasional wajib dipenuhi SPPG dalam program Makan Bergizi Gratis.
- Jumlah SPPG ditingkatkan dari 17 menjadi 28 unit, masing-masing mampu melayani hingga 2.500 penerima manfaat.
- Program MBG diintegrasikan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih untuk menciptakan sirkular ekonomi lokal.
Mojokerto (beritajatim.com) – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menegaskan pentingnya standar kelayakan operasional dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Mojokerto. Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wates, Kecamatan Magersari, Kamis (14/5/2026).
Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita menekankan bahwa program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
“Dalam rangka menjamin agar makan bergizi gratis ini bisa terlaksana sesuai niat baik Bapak Presiden untuk menyehatkan anak-anak Indonesia dan menciptakan generasi emas, maka SPPG yang bertugas menyiapkan MBG harus memenuhi standar kelayakan operasional,” ungkap Ning Ita.
Ia juga mengapresiasi langkah SPPG Wates yang telah mengikuti arahan tim verifikasi dengan melakukan relokasi dapur agar seluruh standar operasional dapat terpenuhi secara maksimal. Untuk menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat, jumlah SPPG di Kota Mojokerto ditingkatkan dari semula 17 menjadi 28 unit, dengan kapasitas layanan masing-masing hingga 2.500 penerima manfaat.
Selain fokus pada pemenuhan gizi, Ning Ita menjelaskan bahwa program MBG juga diintegrasikan dengan sejumlah program prioritas nasional lainnya, seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan program ketahanan pangan. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan sirkular ekonomi di tingkat kelurahan dan desa.
Menurut Wali Kota, SPPG akan bersinergi dengan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang bekerja sama dengan kelompok tani, kelompok budidaya ikan, dan peternak lokal dalam penyediaan bahan pangan.
“Mari kita jaga bersama-sama dan kita awasi bersama. Kalau program-program ini saling bertautan, maka akan terbentuk sirkular ekonomi di masing-masing wilayah terkecil,” pungkasnya. [tin/suf]






