Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir di Rumah Duka Grand Heaven, Rabu malam, 11 Februari 2026, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono. Kedatangannya menjadi simbol duka mendalam Pemerintah Kota Surabaya atas wafatnya sosok yang selama ini menjadi mitra strategis dalam membangun kota.
”Saya secara pribadi dan mewakili jajaran Pemerintah Kota Surabaya serta warga Kota Surabaya merasa kehilangan. Kehilangan seorang sahabat, seorang pimpinan yang luar biasa, seorang saudara yang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat Kota Surabaya, Mas Adi Sutarwijono,” ucap Eri.
Didampingi istrinya, Rini Indriyani, Eri tiba di ruang 105 lantai 1 dan disambut keluarga almarhum. Suasana haru menyelimuti ruangan saat Eri menyalami istri dan anak-anak mendiang, berusaha menguatkan mereka di tengah suasana duka.
”Saya pesankan ke anaknya untuk menguatkan ibunya. Karena ibunya hari ini pasti akan merasa sendiri, maka yang menguatkan adalah putra-putrinya,” imbuhnya.
Eri mengungkap, di balik sikap tenang almarhum, tersimpan perjuangan melawan penyakit yang tidak banyak diketahui publik. Informasi mengenai kondisi kesehatan itu ia peroleh dari istri almarhum.
”Istrinya bercerita, diketahui sakitnya bulan November. Tapi di situ beliau dengan jajaran Pemkot dan DPRD tidak pernah merasakan (menunjukkan) sakit itu. Terus berjuang. Bahkan paripurna setelah November ketemu saya juga tidak pernah cerita apa-apa,” kenangnya.
Kondisi Adi Sutarwijono disebut memburuk dalam tiga pekan terakhir hingga harus menjalani perawatan intensif. Meski demikian, almarhum tetap meminta agar penyakitnya tidak disampaikan ke publik karena ingin tetap fokus bekerja.
”Ternyata beliau mengalami kanker hati. Sempat tiga kali cuci darah. Tapi Tuhan sayang kepada beliau agar tidak sakit lagi, maka dipanggil hari ini untuk melepas semua sakitnya di dunia dan menuju ke rumah Tuhan,” tutur mantan Kepala Bappeko Surabaya itu.
Selama memimpin DPRD Surabaya, Eri menyebut Adi Sutarwijono sebagai figur yang mampu merangkul seluruh kekuatan politik. Hubungan harmonis antara eksekutif dan legislatif, menurut dia, terbangun karena kepemimpinan almarhum yang terbuka dan bijak.
”Mas Adi punya dedikasi luar biasa. Beliau pemimpin yang bijak. Tidak melihat saya dari mana, tapi menggabungkan semua orang yang ada di DPRD dari semua partai untuk menjadikan yang terbaik bagi warga Surabaya,” tegas Eri.
Eri juga mengenang satu pesan almarhum yang selalu ia pegang hingga kini. Nasihat itu ia dapat saat Adi menghadapi berbagai ujian dengan ketenangan.
”Satu yang saya belajar banyak dari beliau adalah kesabarannya. Beliau pernah berkata, dan ini kalimat yang selalu saya ingat, ’Ketika kita disakiti, ketika kita tidak berbuat apa-apa tapi dituduh, biarlah Tuhan yang membalas’,” ujar Eri menirukan pesan mendiang.
Eri menyampaikan doa dan permohonan maaf kepada masyarakat Surabaya atas segala kekurangan almarhum semasa hidup. Ia berharap pengabdian Adi Sutarwijono menjadi amal baik yang mengantarkannya ke tempat terbaik di sisi Tuhan.
”Kami berdoa semoga Mas Adi diberikan tempat paling mulia, surganya Tuhan. Semoga kehidupan terus berjalan,” pungkasnya. [asg/but]






