Malang(beritajatim.com) – Wacana dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dikelola oleh kantin sekolah mendapat respon keras dari Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) Malang Raya.
Mereka menganggap wacana itu tidak logis karena modal pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibangun mitra belum balik modal.
Ketua Gapembi Malang Raya, Djoni Sudjatmoko menilai sangat tidak logis kantin sekolah mengelola MBG.
Alasannya, modal membangun SPPG sebesar Rp2,5 miliar. Dengan angka sebesar itu dia menilai pemerintah tidak punya uang untuk mengubah kantin sekolah menjadi dapur MBG yang berstandar higienis.
“Lalu apakah negara harus mengganti duitnya mitra yang sudah membangun SPPG. Sekarang ada 27 ribu mitra. Dari mana duitnya? Ini kan tidak logis,” kata Djoni, Kamis, (25/6/2026).
Djoni bilang Kantin Sekolah butuh anggaran Rp1,5 miliar untuk membangun SPPG yang higienis. Dia mengaku menjadi mitra SPPG untuk membangun dapur sebesar Rp2,5 miliar. Modal sebesar itu dia klaim belum balik modal sampai hari ini.
“Kalau ini (SPPG) dibilang menguntungkan, duit modal kembali itu loh masih 2 tahun lebih. Modal kami 1 dapur itu mencapai Rp2,5 miliar,” kata Djoni.
Sebagai pemilik SPPG dia mengklaim bahwa penerapan MBG khususnya di Malang Raya telah berjalan bagus. Kasus keracunan disejumlah daerah juga mulai menurun. Bahkan, menurutnya tidak ada kasus keracunan akibat MBG hingga berakibat fatal.
“Bahkan tidak ada satupun yang meninggal dunia karena keracunan. Tifak ada yang cacat atau sakit dan tidak sembuh karena keracunan MBG,” ujar Djoni.
Persoalan Kantin Sekolah mengelola MBG dia setuju jika hal itu diterapkan di daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Karena jika diterapkan secara nasional dan serentak pemerintah membutuhkan dana Rp600 triliun untuk menjangkau 400 ribu lebih sekolah di seluruh tanah air. (luc/ted)






