Blitar (beritajatim.com) – Suasana unjuk rasa yang digelar oleh aliansi mahasiswa Cipayung Plus di depan Kantor DPRD Kabupaten Blitar mendadak diwarnai momen menggelitik yang mencuri perhatian.
Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Supriadi, menjadi sorotan kamera bukan karena ketegangan argumen, melainkan karena wajahnya yang mendadak penuh corengan hitam akibat arang ban bekas.
Momen unik ini terjadi ketika Supriadi memilih pendekatan humanis untuk menemui massa aksi. Ia langsung turun dan ikut duduk lesehan bersama para mahasiswa di atas aspal.
Sayangnya, sang ketua dewan tidak menyadari bahwa titik aspal tempatnya duduk merupakan area bekas pembakaran ban yang dilakukan demonstran sebelumnya. Alhasil, sisa-sisa jelaga dan arang hitam tanpa sengaja berpindah ke wajahnya saat ia menyeka keringat di tengah terik matahari.
Meski penampilannya mengundang senyum geli dari staf dan peserta aksi yang menyadarinya, Supriadi tetap menunjukkan profesionalismenya. Ia tetap fokus mendengarkan dan mencatat setiap poin tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa.
Usai unjuk rasa mereda, Supriadi menyampaikan apresiasinya terhadap aksi penyampaian pendapat yang dinilainya berjalan dengan damai.
“Oh ya, saya kira memang ada mahasiswa menyalurkan aspirasinya dan alhamdulillah sudah kita bisa terima. Semuanya berjalan dengan baik, kondusif dan kami selaku perwakilan yang di daerah tentu akan (mengawal),” ujar Supriadi.
Menanggapi substansi tuntutan mahasiswa yang mayoritas menyoroti regulasi Proyek Strategis Nasional (PSN), Supriadi menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berada di bawah wewenang pemerintah pusat. Kendati demikian, DPRD Kabupaten Blitar berkomitmen penuh untuk menjembatani suara para mahasiswa ke tingkat nasional.
“Nanti akan menyampaikan apa yang menjadi undang-undang atau aspirasi dari mahasiswa semuanya. Artinya, karena semua ini menyangkut program-program PSN (Proyek Strategis Nasional) dan bukan kewenangan di daerah, tapi kami berkewajiban untuk menyampaikan ke pusat,” tambahnya.
Saat dikonfirmasi mengenai dinamika pertemuan yang sempat diduga berjalan tegang dan alot, Supriadi langsung menepis anggapan tersebut. Dengan nada santai, ia menyebut komunikasi dengan mahasiswa Cipayung Plus mengalir dengan baik. Ia bahkan sempat mencairkan suasana di lapangan dengan mengajak perwakilan mahasiswa berseloroh tentang rapat paripurna.
“Kalau saya kira alotnya, saya kira enggak alot. Sebenarnya enggak ada yang alot juga dan mereka juga masih tetap (tertib),” tegasnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Supriadi menegaskan bahwa DPRD Kabupaten Blitar akan segera menggelar rapat internal bersama jajaran pimpinan lainnya untuk menjadwalkan agenda audiensi resmi secara formal.
“Nanti diagendakan audiensi ini. Nanti akan kita rapatkan dulu sama pimpinan yang lain untuk lanjutan. Tapi yang jelas, kita semua menerima aspirasi daripada adik-adik mahasiswa untuk kita teruskan,” pungkasnya. (owi/ted)






