Ngawi (beritajatim.com) – Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan, baru pertama kali ini kebakaran hutan di Gunung Lawu memakai skema water bombing mrnggunakan helikopter.
Menurutnya, beberapa tahun kejadian karhutla belakangan, Ngawi hanya mengalami dampak akibat titik api yang bermula di wilayah Magetan atau Karanganyar. Namun, kali ini Ngawi jadi titik utama munculnya api hingga berdampak pada daerah lain.
“Tahun 2023 ini beberapa kejadian sudah kami padamkan, tapi seminggu lalu dilakukan dengan teknik konvensional tidak bisa dilakukan. Biasanya dengan pengerahan masyarakat TNI Polri dan gabungan bisa dipadamkan tetapi yang ini dari musim kemarau berkepanjangan, angin, jadi terkendala,” kata Mas Antok, sapaan akrab Dwi Rianto Jatmiko, saat ditemui di Lapangan Ajinegoro Desa Sidorejo, Kendal, Ngawi, Rabu (4/10/2023)
Baca Juga: Sinopsis “Bangku Kosong: Ujian Terakhir” yang Tayang Mulai 5 Oktober 2023
“Baru kali ini parah, biasanya dua sampai sepuluh hektar saja sudah bisa padam dengan cara konvensional. Namun, kali ini water bombing memang diperlukan. Kami berterimakasih karena dapat support dari BPBD Jatim dan Jateng serta BNPB yang mengerahkan helikopter,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Ngawi itu.
Saat ini, pihaknya segera memikirkan dampak dari rusaknya 1.250 hektar hutan lindung di Gunung Lawu akibat terbakar. “Akan segera kami ukur, karena ini yang terbesar dari beberapa kejadian karhutla di tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Sebelumnya, Komandan Kodim 0805 Ngawi sekaligus Komandan Satgas Penanganan Karhutla Gunung Lawu Letkol Arm Didik Kurniawan mengungkapkan upaya water bombing yang dilakukan di Petak 41 (sebelumnya ditulis 42) Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Campurejo masuk Desa Karanggupito Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi berjalan efektif.
Baca Juga: Manajer Persebaya Enggan Bocorkan Pemain Asing Yang Hengkang Putaran Kedua
Dari pantauan pasukan darat, sebanyak 17 kali siraman dalam sekali terbang, sudah cukup efektif mengurangi api yang menjalar ke kawasan bawah atau menuju ilaran dekat hutan produksi.
“Water bombing tadi pagi mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Pantauan dari pasukan darat, sudah cukup efektif. Bisa dilihat kepulan asap sudah mulai berkurang di RPH Campurejo,” kata Didik saat ditemui di Lapangan Desa Sidorejo, Kendal, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (4/10/2023)
Selanjutnya, pada kloter berikutnya dilakukan support pemadaman titik api Gunung Lawu yang masuk di kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Karena, masuk dalam prioritas.
“Pengambilan air tetap dari Sengon Hill. Support pemadaman ini berdasarkan dari rapat koordinasi lintas wilayah. Yakni dari Ngawi, Magetan, dan Karanganyar di Jawa Tengah. Diputuskan bahwa pada penerbangan di sore hari ini difokuskan bombing di wilayah Karanganyar,” lanjut mantan Komandan Batalyon Artileri Medan 12 Ngawi itu.
Baca Juga: Antisipasi Banjir, Pemkot Surabaya Kebut Pengerjaan Saluran Air
Meski sementara tak ada support pemadaman dari udara, pihaknya tetap mengerahkan 200 orang pasukan darat untuk memantau dan melakukan penanganan di titik api yang belum benar-benar padam.
“Khususnya yang masih terdapat bara api, kalau terkena angin lagi kan bisa menyala lagi jika kondisi cuaca angin. Kemudian, saat ini tidak ada laporan muncul titik api di lokasi lain,” pungkasnya. [fiq/ian]






