Ngawi (beritajatim.com) – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih belum terkendali menyebabkan seluruh sapi milik warga Dusun Pencol, Desa Sumursongo, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, habis total. Sejumlah sapi mati mendadak dan sebagian lainnya terpaksa dijual dengan harga rendah.
Pada Jumat (3/1/2025), dua ekor sapi terakhir di dusun ini mati mendadak. Pemiliknya, Suparmin (59), bersama anaknya langsung mengubur sapi tersebut di belakang kandang.
“Dua sapi ini mati berurutan, yang pertama sekitar pukul 01.00 dini hari, dan yang kedua pukul 04.00 pagi. Keduanya langsung kami kubur dalam satu lubang,” ujar Suparmin. Sapi yang mati ini memiliki nilai total sekitar Rp25 juta.
Setelah menguburkan sapinya, Suparmin juga membakar kandang ternak sebagai langkah untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Kini, ia tidak lagi memiliki sapi.
Sejak dua pekan terakhir, wabah PMK telah menyerang ratusan ternak sapi di Dusun Pencol. Sebagian sapi dijual paksa untuk menghindari kerugian lebih besar, sementara sebagian lainnya mati karena infeksi. Saat ini, seluruh kandang ternak di dusun tersebut kosong.
Anak Suparmin, Yusuf Budi Prasetyo, menyebutkan bahwa wabah kali ini lebih parah dibanding sebelumnya. “Wabah PMK kali ini lebih ganas. Hari ini kami mengubur dua sapi terakhir di kampung ini. Yang lainnya sudah habis dijual atau mati,” ungkapnya.
Kepala Desa Randusongo, Edi Susilo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya upaya pemerintah dalam menangani wabah ini. “Kondisinya sangat parah. Sebagian ternak dijual paksa, sementara yang lainnya mati. Kami di desa merasa tidak ada bantuan berarti dari dinas terkait,” ujar Edi.
Sementara itu, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi mengakui keterbatasan mereka dalam menangani wabah ini. Hingga saat ini, tercatat ada 582 sapi yang terinfeksi PMK, dengan 54 ekor di antaranya mati. Ironisnya, 10 ribu dosis vaksin PMK yang tersedia sudah kedaluwarsa sejak Oktober 2024. [fiq/beq]






