Jember (beritajatim.com) – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi perah tak menimbulkan dampak kematian yang besar. Namun wabah ini menyebabkan persoalan ekonomi, karena mempengaruhi produksi susu.
“Menurut penjelasan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tingkat kematian ternak tak sampai satu persen. Kematian itu bukan karena PMK, tapi karena sapi tidak terawat dengan baik sehingga tak mau makan. Karena tak mau makan, daya tahan tubuh turun, berdampak pada kesehatannya yang semakin parah berujung kematian,” kata Nyoman Aribowo, anggota Komisi B DPRD Kabupaten Jember, ditulis Minggu (17/7/2022).
PMK sebenarnya bisa ditangani. Adanya hewan ternak yang mati setelah sempat sembuh, menurut Nyoman, dikarenakan komorbid atau penyakit bawaan sapi. “Daya tahan hewan ternak kemudian menurun. Jadi prinsipnya, daya tahan tubuh harus dijaga dan tetap bagus,” kata Nyoman.
Kendati angka kematian kecil, dampak PMK tetap besar terhadap peternak sapi perah. “Di sejumlah kawasan pusat sapi perah, produksi susu tinggal 20-30 persen. Ada guncangan ekonomi,” kata Nyoman yang juga pengusaha sapi perah ini.
Nyoman memiliki sembilan ekor sapi perah yang berproduksi. “Seharusnya mereka memproduksi 90 liter susu per hari. Tapi sekarang tinggal 30 liter,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”wabah-pmk-jember”]
Ini membuat Nyoman pusing. “Biaya pemeliharaan, biaya operasional, biaya tenaga kerja tetap. Pemasukan turun 70 persen. Pendapatan kami sudah minus selama dua pekan ini dan otomatis harus mencari dukungan finansial dari luar,” katanya.
Tak ada jalan lain, kecuali tetap bertahan. “Kalau sapi itu kami jual juga terlalu murah. Kami potong juga daging sapi melimpah. Sekarang tukang jagal tidak mencari sapi, karena sapi antre ditawarkan ke mereka,” kata Nyoman.
“Jadi pilihan satu-satunya adalah bertahan bagaimana ternak tetap bisa hidup dan sehat. Tapi untuk menuju produksi susu yang normal, kami belum tahu. Berdasarkan konsultasi dengan pemprov, butuh waktu agak panjang untuk pemulihan,” kata Nyoman. [wir/suf]






