Pacitan (beritajatim.com) – Polemik di SMPN 1 Pacitan kian melebar setelah video perpisahan penuh haru antara murid dan seorang guru bernama Alsa Daruna beredar luas di media sosial. Jika sebelumnya publik menilai sang guru sebagai pihak yang terdzolimi, kini muncul fakta baru berupa aduan dari lima wali murid yang mengaku anaknya mengalami dugaan pelecehan.
Situasi ini langsung menuai reaksi dari berbagai kalangan, termasuk Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Pacitan. Ketua IGI Pacitan, Didik Hartanto, menekankan perlunya investigasi yang transparan demi keadilan semua pihak.
“Menanggapi kejadian di SMPN 1 Pacitan, agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi dan kegaduhan, serta demi memberikan keadilan bagi semua pihak, maka kami meminta aparat terkait untuk melakukan langkah-langkah tegas,” ujarnya ditulis Selasa (23/9/2025).
Menurut Didik, ada tiga hal penting yang harus segera dilakukan investigasi mendalam agar informasi tidak bias, investigasi terbuka sebagai dasar pengambilan keputusan yang adil, serta fokus pada penanganan psikologis siswa terdampak.
“Hal ini juga penting untuk mengantisipasi dampak lebih luas berupa ujaran kebencian, menurunnya kepercayaan publik terhadap manajemen pendidikan, hingga potensi perundungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Pacitan, Suprayitno Ahmad, meminta seluruh anggota PGRI untuk tidak mengeluarkan pernyataan ataupun komentar terkait polemik tersebut.
“Untuk sementara, kami berharap tidak ada gerakan maupun komentar dari anggota PGRI,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Kini, desakan publik mengarah kepada Dinas Pendidikan dan pihak berwenang agar segera mengusut tuntas persoalan ini. Harapannya, dunia pendidikan di Pacitan kembali kondusif sehingga siswa dan guru dapat menjalani proses belajar mengajar dengan aman tanpa tekanan. (tri/kun)






