Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah jemaah haji baru-baru ini menjadi sorotan setelah memilih untuk melakukan perjalanan ke Makkah dengan berjalan kaki. Fenomena ini memicu perdebatan tentang niat di balik aksi tersebut dan potensi risikonya.
Menurut Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya, Khoirul Anam, perjalanan ini mencerminkan perjalanan spiritual yang penuh ketulusan. Namun, ia juga mempertanyakan kesiapan dokumen perjalanan dan motif sebenarnya.
“Meskipun haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu, perjalanan kaki menuju Mekkah menimbulkan pertanyaan soal keselamatan dan legalitasnya,” kata Irul, Kamis (20/2/2025).
Ibadah haji bagi banyak jemaah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pengalaman spiritual mendalam. Setiap langkah dianggap sebagai pengabdian. Namun, di era modern ini, aksi tersebut memicu beragam reaksi, dari kekaguman hingga kekhawatiran akan keselamatan.
Anam mengaitkan fenomena ini dengan teori sosial Max Weber. Aksi ini, katanya, bisa dianggap sebagai perilaku berorientasi nilai yang didorong oleh keyakinan spiritual, bukan pertimbangan rasional.
Weber juga menekankan peran otoritas tradisional dan karismatik dalam mempengaruhi tindakan jemaah. Ia menjelaskan, Weber mengkategorikan otoritas menjadi tiga jenis, yaitu otoritas legal-rasional, otoritas tradisional, dan otoritas karismatik.
“Dalam konteks menunaikan ibadah haji, otoritas yang relevan adalah otoritas tradisional dan otoritas kharismatik,” ujarnya.
Ia menambahkan, kewenangan tradisional didasarkan pada adat istiadat yang telah lama berlaku dalam masyarakat. Jika suatu masyarakat memiliki tradisi berjalan kaki untuk melaksanakan haji, individu yang mengikuti tradisi ini dipandang sebagai penjaga nilai-nilai yang dihormati.
“Mereka sering kali mendapat penghormatan karena mematuhi adat istiadat dan nilai-nilai agama yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelas Irul.
Sebaliknya, otoritas karismatik muncul ketika seorang individu memiliki kualitas khusus yang menginspirasi rasa hormat dan pengikut. Mereka yang memilih untuk menunaikan ibadah haji sering dipandang memiliki kesabaran luar biasa, iman yang teguh, dan ketulusan.
“Akibatnya, mereka memperoleh pengakuan simbolis dalam komunitas mereka sebagai individu dengan spiritualitas tinggi,” tambahnya.
Menurut Irul, peran ulama juga tak kalah penting. Mereka dapat memberi legitimasi pada praktik ini atau menekankan pentingnya niat dan makna spiritual dibandingkan metode perjalanan.
Secara keseluruhan, ibadah haji memiliki dimensi sosial dan keagamaan yang kompleks, lebih dari sekadar perjalanan fisik. “Karena itu, menunaikan ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik saja, tetapi juga memiliki makna sosial dan keagamaan yang dalam,” ungkapnya. [ipl/beq]






