Jember (beritajatim.com) – Vaksinasi terhadap hewan ternak yang sehat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus beradu cepat dengan penularan virus Penyakit Mulut dan Kuku. Sejauh ini, jumlah ternak yang divaksin masih jauh dari populasi sapi keseluruhan.
Di sisi lain, potensi PMK menyebar lebih cepat. Sehingga vaksinasi harus berkejaran dengan waktu.
Kabupaten Jember memperoleh jatah vaksin 8.000 dosis untuk 8.000 ekor sapi. Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Andi Prastowo berharap seluruh dosis vaksin ini selesai disuntikkan hari ini, Selasa (12/7/2022).
“Tinggal 100 dosis,” katanya.
Statistik populasi sapi di Jember mencapai kurang lebih 275 ribu ekor. “Vaksinasi harus 80 persen dari populasi untuk pengamanan secara menyeluruh dari PMK,” kata Andi.
Menurut Andi, vaksinasi dilakukan terhadap ternak sehat. Sementara penyebaran penyakit ini sangat cepat.
“Ada ternak yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala. Ketika divaksin, tahu-tahu dua atau tiga hari berikutnya muncul gejala PMK itu. Ini problem di lapangan,” katanya.
Bahan vaksinasi sendiri harus menunggu pengiriman dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mendapatkan suplai dari pemerintah pusat. “Janji pemerintah pusat paling tidak pada Agustus ada vaksinasi (massal),” kata Andi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit-pmk”]
Hingga Senin (11/7/2022) kemarin, sudah ada 10.823 ekor sapi di Jember yang terjangkit PMK. Sebanyak 63 ekor di antaranya mati dan empat ekor dipotong paksa. Hanya 100 ekor yang tercatat sembuh.
Menanti datangnya suplai vaksin, Dinas Peternakan Jember terus menyosialisasikan informasi soal cepatnya penyebaran PMK ini. Masyarakat sangat disarankan menjaga kebersihan kandang dan peternak sendiri.
“Peternak di desa, kalau ada ternak tetangga yang kena PMK, akan datang dan melihat. Tahu-tahu pulang, masuk kandang ternaknya sambil mengelus-elus sapinya. Ini yang menyebabkan penularan.” kata Andi.
Sosialisasi juga dilakukan untuk menepis isu daging sapi tidak sehat dikonsumsi di tengah wabah PMK. “PMK pada hewan tidak menular pada manusia. Daging dan susunya aman dikonsumsi, masaklah dengan benar. Ini sudah kami sampaikan di media sosial juga. Walaupun ternak itu terindikasi PMK, daging kita potong dan konsumsi, tidak menular pada manusia. Tapi dengan catatan dimasak secara standar,” kata Andi.
Andi meminta anggota DPRD Jember agar ikut menyosialisasikan informasi seputar PMK ini kepada konstituen masing-masing. “Kematian PMK secara teori rendah, satu sampai lima persen. Tapi sapi-sapi jenis limousin lebih rentan, karena di samping hidup di daerah dingin. Beda dengan sapi-sapi putih pada era 1970 dan 1980-an,” katanya.
Dinas Peternakan sudah mengusulkan anggaran belanja tidak terduga (BTT) untuk pembelian obat-obatan yang meningkatkan kekebalan kondisi tubuh ternak. “Virus tidak bisa diobati. Yang bisa membunuh virus adalah peningkatan sistem kekebalan tubuh,” kata Andi.
Andi mengaku sudah mengajukan anggaran untuk pencegahan PMK. Tetapi, dia tidak menyebut berapa nominalnya.
“Kami sudah mengajukan. Belum kami sampaikan. Sebelumnya ada gugus tugas dan kami sudah sampaikan ke Pak Bupati. Ada komposisi satuan tugas yang harus kami ubah untuk menyesuaikan dengan komposisi di pusat,” kata Andi. [wir/beq]






