Blitar (beritajatim.com) – Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin langsung turun tangan memimpin aksi bersih-bersih di Alun-Alun Kota Blitar setelah viral review dari influencer asal Malang, Gilang.her.
Pria yang akrab disapa Mas Ibin itu terlihat tidak hanya melakukan peninjauan. Mengenakan pakaian olahraga, ia ikut mengecat fasilitas umum menggunakan kuas dan kaleng cat, sekaligus memberi contoh langsung kepada jajaran kepala OPD dan ASN.
Aksi kerja bakti ini dikemas dalam semangat Gerakan Indonesia Asri, yang menurut Mas Ibin menjadi momentum untuk memperbaiki kondisi fasilitas yang mulai terlihat usang.
“Kami memang ada gerakan Indonesia Asri seperti dipelopori oleh Pak Presiden. Bertepatan dengan hari Jumat, kami fokuskan di sekitar Alun-Alun untuk bersih-bersih dan memperbaiki fasilitas. Saya ikut partisipasi karena teman-teman kepala OPD juga semuanya ikut mengecat di lapangan,” ujar Mas Ibin.
Ia juga menanggapi kritik publik terkait konsep ruang Alun-Alun yang dinilai kosong. Menurutnya, konsep tersebut justru mengadopsi tata ruang tradisional yang menekankan fungsi ruang terbuka.
“Saya kira Alun-Alun ini konsepnya open space tradisional. Alun-Alun yang bagus itu yang memperhatikan konsep lama, tapi juga nyaman untuk aktivitas masyarakat. Karena ini objek vital yang banyak digunakan anak-anak, maka harus dijaga, dirapikan, dan kalau ada yang rusak segera diperbaiki,” jelasnya.
Menjawab keluhan soal kebersihan akibat kotoran burung, Pemkot Blitar mulai melakukan pemasangan alat pengusir burung blekok secara bertahap.
“Teman-teman hari ini merapikan rumput, mengecat ulang, hingga memasang alat untuk mengusir burung blekok. Di sisi selatan sudah berhasil, sekarang kita sisir bagian utara. Tentu dengan cara yang tidak menyakiti hewan,” tambahnya.
Langkah cepat ini menjadi respons atas sorotan publik terhadap efektivitas anggaran renovasi Alun-Alun yang mencapai Rp5 miliar dalam dua tahun terakhir.
Sebelumnya, video review dari Gilang.her menuai perhatian luas karena mengkritik sejumlah fasilitas, mulai dari keramik kusam yang disebut “motif balas dendam”, wastafel tanpa aliran air, hingga desain playground yang dinilai membingungkan.
Meski aksi bersih-bersih ini mendapat respons positif, masyarakat masih menunggu tindak lanjut berupa perbaikan fungsional jangka panjang, khususnya pada instalasi air dan fasilitas toilet yang sempat dikeluhkan. [owi/beq]






