Blitar (beritajatim.com) – Kondisi Alun-alun Kota Blitar mendadak jadi sorotan publik usai disentil oleh konten review seorang influencer, memicu respons langsung dari Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, yang turun ke lapangan memberikan “review tandingan”.
Langkah cepat ini bukan sekadar respons simbolik. Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin tersebut menyisir langsung area Alun-alun, mulai dari titik pedagang kaki lima hingga pusat kawasan yang dikenal sebagai titik nol Kota Blitar.
Dalam tinjauannya, Mas Ibin menegaskan bahwa Alun-alun Blitar memiliki karakter kuat sebagai ruang terbuka (open space) tradisional yang telah dipertahankan sejak era kolonial Belanda.
“Ya jadi Alun-alun kita ini masih sangat asri ya, seperti Alun-alun pada zaman dulu ya zaman Belanda, jadi di depan Alun-alun banyak teman-teman, pedagang, ini juga apa namanya, ada seniman ya seniman anak-anak, jadi Alun-alun ini memang konsepnya open space ya open space, berarti tradisionalnya,” ungkapnya dalam video review.
Ia menolak gagasan perombakan total demi mengejar kesan modern. Menurutnya, mempertahankan keaslian justru menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Meski demikian, Mas Ibin tetap mengakui adanya sejumlah kekurangan, terutama pada fasilitas yang mulai termakan usia, seperti tempat sampah. Ia juga mengungkap kendala keterbatasan anggaran dalam rencana revitalisasi.
“Jadi tidak perlu dibongkar, jadi saya kira, belum perlu ya kita merevitalisasi, perlu juga sih tapi anggarannya belum ada,” imbuhnya.
Persoalan kebersihan akibat kotoran burung juga menjadi perhatian. Namun, ia memilih pendekatan konservasi dengan tetap menjaga keberadaan satwa yang ada di kawasan tersebut.
“Satwa yang harus dijaga juga seperti itu, tapi biasanya sama teman-teman dibersihkan,” tambahnya.
Menariknya, Mas Ibin turut mengungkap filosofi klasik Alun-alun yang jarang diketahui publik. Ia menyebut Alun-alun sebagai simbol dualitas kehidupan masyarakat, di mana satu sisi merepresentasikan kebaikan melalui keberadaan masjid, sementara sisi lainnya berdampingan dengan simbol penegakan hukum seperti penjara.
Di akhir tinjauannya, Mas Ibin membuka ruang partisipasi publik dengan mengajak warga menyampaikan pendapat terkait pengembangan Alun-alun melalui media sosial.
“Kalau masyarakat ingin Alun-alun dibikin seperti apa, silakan komen. Tapi kalau menurut saya, ini masih oke dengan konsep tradisionalnya. Kita harus bersyukur punya Alun-alun yang rindang,” tuturnya.
Ia pun menutup dengan pernyataan tegas terkait kebanggaannya terhadap Kota Blitar.
“Kalau saya, sangat bangga jadi warga Kota Blitar,” pungkasnya. [owi/beq]







1 Komentar
kotoran burungnya bejibun.. harusnya dibersihkan