Kediri (beritajatim.com) – Kematian ibu, masalah tumbuh kembang anak atau stunting dan pernikahan dini di Kabupaten Kediri menggugah Prodi Sarjanan Terapan Kabidanan Kediri untuk berinovasi. Poltekkes Kemenkes Malang terus menggencarkan Program Wilayah Binaan untuk mengatasi segala persoalan tersebut. Salah satunya di Desa Keniten, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
Ketua Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Kediri Rahajeng Siti Nur Rahmawati mengatakan, program pencegahan pernikahan dini dan pendampingan ibu hamil di Desa Keniten sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI) serta risiko stunting. Bersama Program Studi Teknologi Bank Darah Poltekkes Kemenkes Malang, program ini sudah memasuki tahun ke-III di desa ini.
“Melalui program ini kami melakukan pendampingan kepada masyarakat yang dimulai sejak masa remaja dengan mengupayakan pencegahan pernikahan dini. Harapannya supaya mereka menikah di usia yang sudah siap secara reproduksi sehingga menjalani proses kehamilan dengan sehat, bayi lahir juga dalam kondisi sehat dan menurunkan risiko stunting,” terang Rahajeng Siti Nur Rahmawati saat membukan launching program wilayah binaan tahap III di Desa Keniten.
Launching program wilayah binaan tahun ketiga ini dihadiri oleh Kadinkes Kabupaten Kediri yang diwakilkan pada Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi yakni Retno Nur Azizah, Kepala Puskesmas Mojo yakni Dokter Rindang Farihah Idana, Kepala Desa Keniten Arik Suryani. Serta dihadiri oleh kader, para ibu hamil dan remaja.

Tetapi jauh sebelum launching, tambah Rahajeng, pihaknya juga sudah dilakukan pembekalan terhadap para kader ibu hamil dan remaja serta mahasiswa. Sehingga, dapat mengotimalkan proses pendampingan terhadap ibu hamil sebagai upaya untuk menurunkan AKI dan risiko stunting di desa ini.
Masih kata Rahajeng, pendampingan tersebut dilakukan dengan cara menggunakan produk inovasi yang disusun oleh dosen dan mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Kebidanan Kediri Poltekkes Kemenkes Malang. Inovasi itu berupa media KIE untuk ibu hamil dan video untuk remaja yang dapat memudahkan mereka.
“Program pendampingan dilaksanakan pada ibu hamil melalui kelas ibu hamil. Lalu dilanjutkan dengan memberikan wadah untuk konsultasi melalui whatsapp grup dalam rangka pemantauan kehamilan. Pada sasaran remaja juga dilaksanakan kelas remaja yang dilanjutkan dengan memberikan wadah untuk konsultasi tentang kesehatan reproduksi dan edukasi penundaan pernikahan dini melalui whatsapp grup untuk mempermudah pendampingan pada remaja,” bebernya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri melalui Retno Nurazizah, selaku Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi menyampaikan upacara terima kasih kepada Polkesma yang telah memberikan pengabdian masyarakat ke Desa Keniten. Pihaknya berharap program tersebut dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta angka stunting di Desa Keniten.
“Ini tadi kegiatan tahap ketiga dengan juga diserahkan literasi-literasi yang berguna dan akan kami kembangkan di Kabupaten Kediri,”jelasnya.
Retno juga berharap program ini bisa dimaksimalkan, sehingga dapat menekan adanya pernikahan dini yang cukup tinggi di wilayah Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
Hal senada diungkapkan Kepala Puskesmas Mojo Dokter Rindang Farihah Idana. Menurutnya, program tersebut sangat bermanfaat untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di ruang lingkup kerjanya terutama di Desa Keniten.
“Kami mengucapkan terima kasih selama tiga tahun ini kegiatan ini sangat bermanfaat untuk bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi di ruang lingkup kerja kami terutama di Desa Keniten bisa zero kematian, karena adanya pendampingan dari mahasiswa kebidanan di Polkesma. Dan tahun ini ada tambahan pendampingan terhadap remaja dengan harapan untuk menurunkan pernikahan dini diwilayah ini,” jelasnya.
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap individu agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. [nm/kun]






