Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengukuhkan Mohamad Yusak Anshori sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, Sabtu (14/2/2026). Yusak memperkenalkan gagasan Softbrain Engineer untuk merekonstruksi manajemen di era disrupsi.
Konsep tersebut menekankan penggabungan sistem teknologi dengan empati manusia. Menurut Yusak, masa depan organisasi tidak hanya bergantung pada presisi data, melainkan juga kesadaran emosional dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
Ia memandang teknologi sebagai mitra strategis, bukan pengganti peran nurani manusia. “Teknologi memang mampu mempercepat langkah, tetapi hanya manusia yang dapat menentukan arah,” tutur Yusak.
Yusak juga menyoroti minimnya perhatian terhadap subjek di balik pengembangan teknologi digital. Saat ini, sistem terus dikembangkan tanpa diimbangi kesiapan pengelolanya. Hal ini berisiko membuat peran manusia tereliminasi oleh teknologi.
“Dalam organisasi modern, teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang bermoral, bukan sebagai pengganti nurani,” ujarnya.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyebut pengukuhan ini sebagai momentum bagi institusi. Yusak merupakan guru besar yang lahir murni dari proses pertumbuhan akademik internal di lingkungan Unusa. “Ini menjadi momen pecah telur bagi kami,” ujar Tri Yogi.
Ia berharap pencapaian ini meningkatkan kepercayaan diri para dosen, terutama setelah Unusa melahirkan 20 doktor baru pada 2025.
Unusa sendiri, kini menyiapkan pendampingan intensif bagi calon profesor lainnya. Pendampingan tersebut seperti penyelesaian syarat administratif hingga pengawalan proses birokrasi. Targetnya, dua guru besar baru akan segera menyusul tahun ini.
Saat ini, beberapa kandidat telah memenuhi persyaratan kredit poin akademik. Mereka hanya tinggal menunggu pemenuhan regulasi masa kerja minimum sepuluh tahun. Unusa optimistis jumlah profesor akan bertambah signifikan dalam waktu dekat. [ipl/ian]






