Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi meluncurkan TAX Center di lingkungan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Teknologi Digital (FEBTD).
Berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kanwil Jatim 1, pusat kajian ini didirikan untuk menggenjot literasi pajak sekaligus mendorong peran akuntan di era ekonomi kreatif digital.
Peresmian ini, menurut Wakil Rektor II Unusa, Prof. Mohamad Yusak Anshori adalah langkah strategis kampus. Ia menegaskan bahwa peran akuntansi kini telah bergeser dari sekadar mencatat angka.
“Akuntansi adalah bahasa pengambilan keputusan dan strategi yang mendukung inovasi serta literasi pajak,” ujar Yusak, Kamis (13/11/2025).
Dengan peluncuran ini, Unusa menargetkan diri sebagai mitra strategis pemerintah. TAX Center Unusa akan difungsikan sebagai pusat pembelajaran, konsultasi, dan riset kolaboratif antara dosen, mahasiswa, dan praktisi pajak.
“Unusa siap menjadi mitra strategis (DJP) dalam meningkatkan kesadaran pajak di kalangan akademisi dan masyarakat,” tegasnya.
Pihak DJP menyambut baik kolaborasi tersebut. Penyuluh Pajak Ahli Madya Kanwil DJP Jatim 1, Alfatir Badra menilai sinergi ini krusial untuk membangun kemandirian bangsa.
“Pajak bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk kontribusi nyata terhadap kemandirian bangsa,” kata Alfatir.
Ia berharap kolaborasi ini dapat menyederhanakan dan mempermudah pemahaman pajak di level masyarakat.
Peluncuran TAX Center ini juga dibarengi seminar internasional bertajuk “Accounting to Action”. Fokusnya membahas transformasi profesi akuntan di tengah gempuran teknologi dan tuntutan ekonomi kreatif.
Kepala Program Studi Akuntansi Unusa, Dr. Endah Tri Wahyuningtias menekankan pentingnya mengubah paradigma lama tentang akuntansi.
“Akuntan modern harus mampu menjadi data analyst, ESG specialist (Ahli Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola), atau bahkan financial storyteller. Adaptasi terhadap teknologi dan AI adalah kunci masa depan akuntan,” jelas Endah.
Perspektif global disampaikan Emeritus Prof. Ainin Sulaiman dari University of Malaya Wales. Ia menyebut profesi akuntan kini wajib beririsan dengan AI, Big Data, dan Blockchain, serta fokus pada riset keberlanjutan (ESG).
Sementara itu, CEO PT Candranaya Lestari, Dr. Sinta Kartikasari menyoroti pentingnya disiplin data dari kacamata industri kreatif.
“Setiap data keuangan adalah amunisi untuk pengambilan keputusan. Bahkan di dunia kecantikan, setiap treatment dan produk adalah entri jurnal yang harus akurat,” pungkasnya. [ipl/aje]






