Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya) telah menerima hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi untuk melaksanakan Program Pembinaan Industri Rumah Tangga dan Usaha Mikro (IRT-UM) tahun 2024. Hibah ini bukan hanya sekadar bantuan materiil, tetapi sebuah langkah strategis yang membuka jalan bagi transformasi besar bagi sektor usaha mikro di Surabaya dan sekitarnya.
Usaha mikro, yang merupakan tulang punggung perekonomian lokal, menghadapi berbagai tantangan berat: mulai dari keterbatasan sumber daya, masalah kualitas produksi, hingga kesulitan dalam memperluas pasar. Untag Surabaya, dengan dukungan hibah ini, berusaha menjadi katalisator perubahan bagi usaha mikro di wilayah ini, yang selama ini terbatas pada kapasitas dan skala kecil. Namun, di balik optimisme ini, tantangan besar yang harus dihadapi adalah memastikan bahwa perubahan tersebut tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan dan berdampak luas.

Menjawab Kebutuhan Nyata
Bakso A3 di Kabupaten Gresik, yang dipimpin oleh Mahshunah, merupakan salah satu contoh nyata dari betapa pentingnya bantuan ini. Usaha bakso frozen yang selama ini mengandalkan proses produksi manual, kini mendapat peralatan modern seperti mesin pencetak bakso, bowl cutter, hingga vacuum sealer yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
“Dengan bantuan ini, kami tidak hanya bisa meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga bisa menjaga kualitas bakso kami agar tetap konsisten. Jika sebelumnya kami harus mengolah bakso secara manual, sekarang kami bisa memproduksi lebih banyak dengan waktu yang lebih singkat. Harapan kami, usaha ini dapat berkembang lebih besar dan menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak untuk masyarakat sekitar,” ujar Mahshunah penuh harap.
Namun, seperti halnya usaha mikro lainnya, Bakso A3 tetap dihadapkan pada tantangan terbesar: manajemen usaha yang masih sederhana dan pemasaran yang terbatas. Untuk itu, program ini tidak hanya memberikan peralatan produksi, tetapi juga pelatihan dalam pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, dan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Tantangan di Lapangan
Sementara itu, bagi Pia Mahen di Porong, Kabupaten Pasuruan, yang memproduksi pia khas Porong, tantangan yang dihadapi tidak hanya terletak pada kapasitas produksi. Srinah, pemilik usaha tersebut, menyadari bahwa untuk berkembang, mereka harus mengatasi dua hal utama: digitalisasi pemasaran dan pengelolaan distribusi yang lebih efektif.
“Bantuan peralatan dari Untag Surabaya sangat membantu untuk meningkatkan kualitas produk dan pengemasan kami. Tapi, di sisi lain, kami juga butuh pengetahuan tentang pemasaran digital agar produk kami lebih dikenal di pasar yang lebih luas. Tanpa itu, produk yang kami hasilkan akan tetap terbatas pada pasar lokal saja,” ujar Srinah.
Ini mencerminkan sebuah kenyataan pahit yang dihadapi banyak usaha mikro: peralatan produksi yang baik tidak cukup untuk memastikan keberlanjutan. Tanpa strategi pemasaran yang tepat dan kemampuan untuk menjangkau konsumen lebih luas, banyak usaha mikro akan kesulitan bertahan di pasar yang semakin kompetitif.

Mengoptimalkan Potensi Usaha Mikro
Sementara itu, Agen Kupang Merah Putih Pak Sutoaji, yang berbasis di Kabupaten Sidoarjo dan mengkhususkan diri dalam distribusi produk khas Kupang seperti kupang merah, kupang putih, dan petis, menghadapi tantangan yang serupa: akses pasar yang terbatas dan kurangnya distribusi yang efektif.
“Peralatan yang kami terima sangat membantu dalam proses produksi. Kami bisa meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Namun, untuk bisa bersaing di pasar yang lebih besar, kami membutuhkan pengetahuan dalam pemasaran dan distribusi produk yang lebih luas. Harapan kami, Untag Surabaya bisa membantu dalam hal ini,” ungkap Muslimah, pemilik usaha tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun usaha mikro sudah memiliki produk yang berkualitas, akses ke pasar dan kemampuan untuk mengelola distribusi tetap menjadi batu sandungan utama bagi banyak usaha kecil untuk berkembang. Pendampingan berkelanjutan dalam aspek pemasaran dan pengelolaan distribusi menjadi langkah kunci untuk memastikan usaha mikro ini dapat berkembang secara berkelanjutan.

Komitmen Untag Surabaya
Dr. Achmad Yanu Alif Fianto, Ketua Pelaksana Program Pembinaan IRT-UM, menegaskan bahwa hibah ini bukanlah sekadar program pemberian alat, tetapi merupakan program pembinaan yang komprehensif untuk mendorong usaha mikro agar dapat berkembang menjadi usaha yang mandiri dan berdaya saing. Pendekatan yang diambil adalah tidak hanya memberikan peralatan produksi, tetapi juga pendampingan berkelanjutan dalam manajemen usaha, pengelolaan keuangan, serta strategi pemasaran yang efektif.
“Peralatan memang sangat penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kami membantu pelaku usaha mikro untuk mengelola usaha mereka dengan baik, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperluas pasar. Tanpa pendampingan berkelanjutan, usaha mikro hanya akan stagnan,” ujar Dr. Achmad.
Program ini, menurutnya, merupakan pembangunan ekosistem yang mendukung usaha mikro untuk tumbuh dalam jangka panjang, bukan sekadar jangka pendek. Keberlanjutan usaha mikro akan tercapai jika ada sinergi antara pelatihan teknis, pendampingan manajerial, dan akses pasar yang lebih luas.

Mengubah Usaha Mikro
Di tingkat lokal, keberhasilan program ini dapat memberikan dampak langsung pada perekonomian daerah. Dengan meningkatkan kapasitas produksi, usaha mikro yang terbantu dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja, mengurangi angka pengangguran, dan memperkuat perekonomian lokal. Dari sana, dampaknya bisa menyebar lebih luas ke perekonomian nasional.
“Program ini sangat penting karena sektor usaha mikro adalah penopang ekonomi lokal yang juga memberi kontribusi besar pada perekonomian Indonesia. Kami berharap program ini dapat mempercepat perkembangan usaha mikro di Surabaya, sehingga mereka dapat menjadi pemain utama di pasar nasional,” kata Dr. Achmad.
Namun, untuk memastikan dampak jangka panjang, pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan usaha dan pemasaran sangat diperlukan agar usaha mikro bisa berkembang menjadi usaha yang lebih profesional dan siap bersaing di pasar global.

Tentang Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Untag Surabaya adalah perguruan tinggi yang berkomitmen untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat melalui program pengabdian masyarakat dan penelitian terapan. Dengan mengusung program Pembinaan IRT-UM, Untag Surabaya membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi lokal.
Melalui kolaborasi yang erat dengan pelaku usaha mikro, pendampingan berkelanjutan, dan penerapan teknologi; Untag Surabaya bertekad untuk menciptakan usaha mikro yang mandiri, inovatif, dan kompetitif di pasar nasional dan global. [but]






