Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengukuhkan dua guru besar baru pada rapat senat di Auditorium R. Soeparman Hadipranoto Grha Wiyata, Rabu (8/4/2026).
Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro menyebutkan kedua profesor ini merupakan guru besar ke-29 dan ke-30 di kampusnya. Tambahan ini memperkuat barisan akademisi di bidang teknik dan ekonomi.
“Alhamdulillah hari ini kita mengukuhkan dua guru besar ke-29 dan ke-30. Jadi sampai hari ini totalnya sudah ada 30 guru besar yang pernah kita kukuhkan,” kata Harjo.
Harjo menekankan latar belakang keduanya sebagai lulusan luar negeri akan membuka peluang kolaborasi internasional. Hal ini menjadi langkah memperluas jejaring pendidikan tinggi di kancah global.
“Dua guru besar ini alumni luar negeri. Almamater tempat studi S3 mereka akan kita ajak kerja sama lebih lanjut untuk pertukaran dosen dan mahasiswa,” ungkapnya.
Penambahan ini juga mendukung rencana pembukaan program studi Magister Teknik Mesin. Harjo menargetkan 18 doktor lain yang sudah memenuhi syarat segera menyusul gelar profesor dalam waktu dekat.
Guru Besar Bidang Sistem Optimasi dan Perancangan Industri, Prof. Erni Puspanantasari Putri memfokuskan risetnya pada penguatan UMKM. Ia menilai sektor ini paling tahan banting menghadapi krisis ekonomi.
“Penelitian saya mengintegrasikan metode evaluasi kinerja untuk UMKM. Kita dorong kinerjanya lebih baik karena mereka penyumbang tenaga kerja terbesar dan tulang punggung negara,” ujar Erni.
Perjalanan meraih gelar tertinggi akademik ini dilalui Erni selama lebih dari sepuluh tahun. Ia sempat mengalami kegagalan hingga kendala publikasi jurnal internasional sebelum akhirnya berhasil dikukuhkan.
“Ini bukan perjalanan pendek, saya memulainya sejak 2014. Bisa lolos mencapai gelar ini adalah mukjizat karena secara manusia banyak sekali rintangan yang harus dihadapi,” imbuhnya.
Sementara itu, Prof. M. Sihab Ridwan mengusung riset bidang Manajemen Strategis. Ia mendorong penerapan ilmu manajemen tidak hanya terbatas pada skala perusahaan, melainkan untuk daya saing nasional.
“Saya membawa manajemen strategis untuk memecahkan problem bangsa. Agar Indonesia bisa bersaing di pasar global seperti negara Cina, Korea, maupun Malaysia,” tutur Sihab.
Sihab mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang sehat. Menurutnya, daya saing perusahaan lokal sangat bergantung pada kebijakan dan dukungan ekosistem dari negara.
“Pemerintah harus mendukung dengan membangun ekosistem industri dan investasi. Tanpa itu, akan sulit bagi industri tanah air untuk berkompetisi secara berkelanjutan di level internasional,” tegasnya. [ipl/kun]






