Jember (beritajatim.com) – Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengukuhkan Jekti Prihatin, seorang peneliti spesialis ulat sutra, menjadi guru besar bidang entomologi pada Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Jekti meneliti pengembangan ulat sutra Eri (Samia cynthia ricini) yang dikenal sebagai peace silk. Budidaya ulat sutra ini Eri umumnya menggunakan pakan tanaman jarak kepyar sebagai tanaman inang primernya, dan benangnya diambil tanpa membunuh pupa. Belakangan budidaya ulat sutra Eri mulai beralih ke tanaman inang sekunder, yaitu singkong dengan cara fortifikasi.
Pengembangan budidaya ulat sutra murbei maupun non-murbei, menurut Jekti, mencakup beberapa aspek krusial. Sumber daya manusia dan pengetahuan petani dalam budidaya tanaman pakan dan pemeliharaan ulat sutra masih terbatas.
Aspek kelembagaan juga menghadapi kendala serius dengan hilangnya sebagian besar petani sutra murbei dan koperasinya di Indonesia, akibat kalah bersaing dengan benang sutera impor dari Tiongkok. Khusus untuk budidaya ulat sutera Eri, tantangan signifikan adalah keterbatasan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimiliki pengusaha.
Dalam aspek kualitas produk, daya saing sutera nasional secara umum masih rendah dibandingkan produk serupa dari negara lain. “Meskipun demikian, Indonesia memiliki kreativitas tinggi dalam produk sutera yang berpotensi memberdayakan UMKM,” kata Jekti, senagaimana dilansir Humas Unej, Senin (21/7/2025).
Penelitian ulat sutra pun tak mudah. Dia harus menempuh perjalanan 17 kilometer dari Yogyakarta setiap tiga hari sekali untuk memperoleh daun pakan ulat sutera emas saat penelitian tesis pada tahun 2000. Sementara itu, bahan-bahan pakan buatan seperti bubuk kedelai tanpa lemak dan tepung selulosa murni harus didatangkan dari Jepang.
Saat menggarap disertasi pada 2010, Jekti harus memgupayakan ribuan liter akuades yang mahal untuk membuat hujan asam buatan. ”Akhirnya dapat diganti dengan air demineralisasi dengan TDS (Total Dissolved Solids) kurang dari 5, sehingga menyerupai akuades,” katanya. [wir]






