Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya bersama Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya memberikan pendampingan kepada para penyandang tuna netra. Mereka didorong untuk beraktivitas di ruang publik agar berani berkegiatan secara mandiri.
Dosen Program Studi Architecture UC Prof Christina Eviutami Mediastika mengungkapkan jika pihaknya kerap melakukan pendampingan kepada para penyandang tuna netra yang bersekolah di YPAB untuk menikmati taman-taman kota hingga mall di Surabaya.
“Bahkan sampai nonton bioskop. Mereka senang dan sangat antusias. Rekan buta butuh untuk dikenalkan dengan life-skill secara riil untuk melengkapi teori yang sudah diperoleh di kelas,” kata Novi, Sabtu (5/11/2022).
Evi mengatakan, masyarakat di luar sekolah juga diharapkan memiliki kepedulian dan ikut andil dalam kegiatan ini. “Pendanaan internal SMP dan SMA YPAB tentu tidak memadai untuk membiayai kegiatan semacam ini. Perlu dukungan kita, sehingga teman buta pun dapat meng-upgrade life-skill mereka secara nyata,” katanya.
Sementara itu, Prof Evi bersama 11 mahasiswa Interior Architecture UC sendiri mendapatkan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UC, dalam pendampingan dan pengenalan bagi siswa SMP-SMA YPAB untuk menikmati ‘serunya’ naik Bus Trans Semanggi Suroboyo dan kereta jarak dekat Gubeng-Sidoarjo.
“Kami ingin ajak teman buta menikmati transportasi umum. Naik bus Semanggi Suroboyo di tanggal 5 November dan naik Kereta di tanggal 19 November. Dalam perjalanan tersebut kami juga mengajak rekan buta untuk menikmati makan siang di restaurant fastfood terkenal,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”universitas-ciputra”]
Evi menambahkan, dengan kegiatan semacam ini, maka mereka akan memiliki pengalaman bagaimana berkegiatan secara mandiri, nantinya untuk naik bus, kereta api, dan memesan makanan di restoran fasfood. “Rute hari ini (5/11) dari Halte Manyar Kertoadi kita baik bus turun Halte Santa Maria Darmo, lalu dengan berjalan kaki kita menuju restorant fastfood deket situ untuk makan, Setelah itu pulang ke titik yang sama naik bus juga,” tambahnya.
Lebih lanjut disampaikan, Evi berharap melalui pengenalan dan pendampingan ini, rekan buta suatu saat berani berkegiatan mandiri. Sementara bagi mahasiswa yang ikut serta dalam pendampingan bisa semakin tumbuh rasa empati terhadap sesama, khususnya rekan buta.
“Dengan empati ini harapan saya menjadi dorongan dan inspirasi mahasiswa nantinya saat berkatnya. Akan banyak produk kreatif, usulan kreatif yang diberikan untuk rekan buta,” pungkasnya. [ipl/suf]






