Malang (beritajatim.com) – Unisma (Universitas Islam Malang) menyalurkan belasan ekor sapi dan kambing pada momen Idul Adha 1445 Hijriah. Menariknya, salah seekor sapi dengan perawakan gemuk dan besar hasil ternak sendiri oleh laboratorium Unisma di Jengglong.
Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si., menjelaskan bahwa Idul Adha tahun 2024 ini Unisma mencoba model ternak baru dengan beternak sapi. Terdapat 4 ekor yang dihasilkan dari ternak laboratorium Jengglong.
“Sapinya digemukkan sendiri oleh peternakan Unisma karena kita punya laboratorium di Jengglong. Kita bertekad mulai menyiapkan bisnis peternakan, tahun ini mencoba modelling, kita sudah jual pada masyarakat, salah satunya yang terbesar di kurbankan di sini,” ucap Rektor, Senin (17/6/2024).
Maskuri menjelaskan, terdapat 13 ekor sapi dan 8 ekor kambing yang dipotong di halaman belakang Unisma. Sementara itu, di luar kampus Unisma ada 8 ekor sapi dan 12 ekor kambing.
“Kita didistribusikan 8 ekor sapi dan 12 kamping ke mitra pesantren, lembaga pendidikan, yang memberi support pada Unisma, termasuk pada kiai, yang mendoakan unisma. Jadi kami tidak hanya menyebarluaskan hewan qurban ini di sekitar kampus, tetapi juga di luar kampus Unisma,” ucap Maskuri.
Sapi dan kambing Unisma diedarkan ke berbagai wilayah seperti wilayah kota Malang, kabupaten Malang di Poncokusumo, Singosari, Bululawang, dan Pagak. Kemudian ada juga yang ke daerah Gubug Klakah Lumajang, dan kabupaten Pasuruan.
“Ini semua bagian ajakan pimpinan Unisma pada civitas akademika untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban. Bahkan, kata Rasulullah SAW, sebelum darahnya netes pahalanya diterima oleh yang berkurban,” ucap Maskuri.
Dijelaskan Maskuri, terdapat tiga makna yang bisa dipetik dari berkurban. Pertama, kurban untuk membangun jiwa sosial karena di lingkungan sekitar banyak golongan fakir-miskin dan mustad’afin.
“Pertama kita mengingatkan diri pada masyarakat yang punya rezeki lebih untuk memperhatikan fakir miskin. Kedua dari sisi ekonomi, terjadi kerjasama dengan peternak sapi. Ini model kerjasama institusi dengan peternak sapi,” ucapnya.

Ketiga, membangun kurban untuk membangun spiritualitas. Peristiwa kurban dialami Ibrahim dan putranya Ismail putranya yang direstui siti hajar. Ini menunjukkan ketaatan mereka melebihi kasih sayang kepada anak.
“Oleh sebab itu, komunikasi anak dengan orang tua itu penting. Komunikasi untuk membangun sinergitas dan model pendidikan yang dilakukan. Ada kesabaran dan ketaatan di dalam menjalankan berbagai aktivitas,” jelas Rektor Unisma.
Pihaknya berharap dengan berkurban ini, dapat menjauhkan dari sifat serahkan. Selain itu, dapat meningkatkan rasa peduli sosial dan memiliki sense of crisis terhadap lingkungan di sekitar.
“Pelaksanaan kurban ini simbol saja. Kurban bisa dilakukan sehari hari, berkurban bukan hanya sekedar harta, bisa tenaga, pikiran, maupun amaliah lain, bahkan ketika menyediakan waktu menjauhkan sikap egois itu sudah berkurban,” tutup Maskuri.
Sebagai informasi, jumlah kurban di Unisma, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 10 ekor. 13 sapi yang dipotong dalam kampus berasal 4 ekor dari institusi, 2 ekor dari Rektorat, 1 ekor dari yayasan, 1 ekor dari FEB, dan sisinya dari masyarakat sekitar. [dan/suf]






