Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Sidang Terbuka Senat Universitas Islam Malang dalam rangka Wisuda Periode 77 Tahun 2025. Acara yang mengukuhkan total 1.642 lulusan ini diwarnai berbagai kisah inspiratif dari para wisudawan terbaik yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna.
Di antara ribuan lulusan tersebut, tiga mahasiswi program sarjana menonjol dengan pencapaian akademik luar biasa. Mereka adalah Nilta Akmalia Mandala Putri (IPK 4,00), Badiatul Azizah (Lulus 3,5 tahun dengan IPK 3,98), dan Desy Dwi Setyaningrum (IPK 3,97).
Berikut adalah rahasia dan kisah sukses mereka selama menempuh pendidikan di Unisma. Lulusan dengan predikat pujian tertinggi diraih oleh Nilta Akmalia Mandala Putri, S.Pd. dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (FAI). Mahasiswi asal Banyuwangi ini berhasil lulus dengan IPK sempurna 4,00 dalam waktu 8 semester (4 tahun).
Skripsinya yang berjudul, ‘Analisis Kontrastif Antara Isim Tafdhil dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris Serta Metode Pengajarannya,’ mengkaji perbedaan dan persamaan ‘Isim Tafdhil’ (kalimat perbandingan seperti ‘lebih baik’ atau ‘lebih besar’) dalam dua bahasa.
“Dari persamaannya, sama-sama ada tiga bentuk: positif, komparatif, dan superlatif. Perbedaannya, dalam bahasa Inggris tidak ada gender, sementara dalam bahasa Arab ada,” jelas Nilta.
Kunci suksesnya meraih IPK 4.00, menurut Nilta, adalah disiplin. “Dari semester 1 saya tidak pernah bolos, tidak pernah absen. Saya selalu mengerjakan tugas tepat waktu, konsisten, dan fokus,” ujarnya.
Meski tidak aktif di organisasi (UKM), Nilta tetap aktif dalam kegiatan wajib seperti PPL di MTSN Batu dan KKN di Singosari. Motivasi terbesarnya adalah kedua orang tua dan keinginannya menjadi contoh bagi adik-adiknya.
“Pesan untuk adik-adik tingkat, harus fokus, konsisten, rajin, jangan bermalas-malasan. Kalau tidak paham harus tanya dosen. Kalau capek ya istirahat, besok bisa lanjut lagi,” tuturnya. Lulusan yang menguasai tiga bahasa (Indonesia, Arab, Inggris) ini berencana melanjutkan studi ke jenjang S2.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Badiatul Azizah, S.Pd. dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (FKIP). Mahasiswi asal Pasuruan ini lulus dengan IPK 3,98 dan berhasil menyelesaikan studi lebih cepat, yakni 7,5 semester (3,5 tahun).
Badiatul, yang merupakan penerima beasiswa OSC Medcom, mengangkat skripsi berjudul, ‘Implementasi Model Pembelajaran Time Token dalam Materi Teks Berita untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara dan Partisipasi Siswa Kelas IX SMAN 4 Blitar.’
“Model Time Token ini model kooperatif yang mengharuskan siswa berkelompok dan berbicara bergiliran. Jadi semua siswa dapat kesempatan berbicara, tidak pasif,” jelasnya.
Metodenya, siswa mendengarkan podcast berita lalu menyampaikannya kembali secara bergiliran. Hasilnya terbukti meningkatkan partisipasi, keaktifan, dan nilai siswa. Rahasia suksesnya adalah konsisten belajar, merangkum pelajaran, dan melakukan penelitian skripsi berbarengan dengan program Asistensi Mengajar.
Dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Desy Dwi Setyaningrum, S.A.B., lulus dengan IPK 3,97 dalam 8 semester. Skripsinya fokus pada strategi pemasaran perbankan di era digital.

Judul skripsinya adalah, ‘Pengaruh Social Media Marketing, Direct Marketing, dan Word of Mouth Marketing Terhadap Minat Nasabah Menggunakan Byond by BSI di Era Digital Berdasarkan Generation Grouping’.
“Hasilnya, sosial media marketing menjadi nilai yang sangat efektif bagi pemasaran perbankan. Ada 70%-an nasabah yang setuju menggunakan sosial media marketing karena lebih mudah menjangkau produk,” ungkap Desy.
Kunci suksesnya adalah manajemen waktu yang ketat. “Biasanya saya sekitar dua jam itu fokus harus belajar,” katanya. Uniknya, Desy adalah seorang kembaran. Saudara kembarnya juga lulus dari prodi yang sama, Administrasi Bisnis, dengan IPK yang hanya selisih tipis, yakni 3,95. Desy memilih Unisma karena reputasinya sebagai universitas swasta Islam terbaik di Malang.
Wakil Rektor 1 Unisma, dr. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D., menjelaskan bahwa Wisuda Periode 77 ini meluluskan total 1.642 wisudawan dari 9 fakultas, 1 program pascasarjana, dan 38 program studi. Karena jumlah lulusan melebihi 1.500, wisuda dilaksanakan selama tiga hari, dari 25 hingga 27 Oktober 2025, agar berjalan kondusif.
“Periode ini juga meluluskan 10 mahasiswa dari luar negeri, yaitu dari Thailand, Timor Leste, Brunei Darussalam, dan Sudan. Ini bagian dari peran UNISMA untuk dunia melalui program beasiswa mandiri,” jelas dr. Erna.
Periode ini juga mencatat momen istimewa dengan diluluskannya wisudawan dari Magister Hukum yang berusia 80 tahun, bernama Igusti Lanang Artawijaya. “Ini refleksi bagi kita yang lebih junior, bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia dan belajar itu sepanjang hayat,” tambahnya.
Dr. Erna menegaskan komitmen UNISMA untuk terus berikhtiar menuju World Class University. “Upaya ini didukung dengan penguatan jabatan fungsional dosen (6 guru besar baru tahun ini) serta peningkatan penelitian dan publikasi ilmiah internasional, baik oleh dosen maupun mahasiswa, yang selaras dengan 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs) PBB,” katanya menutup. (dan/but






