Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar peringatan Haul Akbar bagi para pendiri, perintis, dan keluarga besar sivitas akademika di Masjid Ainul Yaqin, Selasa (10/2/2026). Momentum ini menjadi ruang refleksi atas sejarah panjang perjuangan para tokoh terdahulu dalam mendirikan salah satu kampus hijau terbaik di Indonesia ini.
Acara yang berlangsung khidmat sejak pagi ini diisi dengan serangkaian kegiatan spiritual, mulai dari Khatmil Qur’an, pembacaan Tawasul, Yasin, hingga Tahlil yang dikhususkan bagi para pengabdi yang telah wafat.
Rektor Unisma periode 2024 – 2028, Prof. Junaidi, S.Pd., M.Pd., Ph.D., menceritakan narasi menyentuh di balik berdirinya kampus tersebut. Ia menjelaskan bahwa Unisma lahir dari tekad sembilan orang pendiri yang mengumpulkan modal awal dengan cara urunan.
“Konon dalam ceritanya, sembilan pendiri Unisma itu urunan masing-masing Rp1 juta. Terkumpul dana Rp9 juta yang menjadi modal awal. Saat itu jabatan dirangkap bukan karena apa, tapi karena tidak ada orang dan tidak ada uang untuk membayarnya,” kenang Prof. Junaidi.
Ia menegaskan bahwa apa yang dinikmati seluruh sivitas akademika saat ini adalah buah dari keikhlasan para pendahulu. Melalui Haul Akbar ini, Unisma ingin menyatukan kembali tekad untuk melanjutkan estafet perjuangan tersebut.

“Kita semua berkewajiban untuk terus mengembangkan Universitas Islam Malang ini. Kita ingin meneguhkan niat lagi untuk terus mengabdi,” tambahnya.
Senada dengan Rektor, Ketua Umum Dewan Pengurus Yayasan Unisma, Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, S.T., M.P., menekankan pentingnya filosofi Jawa dalam memaknai jasa para pahlawan kampus.
“Selama 44 tahun berdiri, kita telah melalui suka dan duka. Hari ini kita menerapkan prinsip Mikul Duwur Mendem Jero,” ujar Prof. Agus.
Ia menjelaskan bahwa Mikul Duwur berarti mengenang dan menjunjung tinggi segala jasa serta kebaikan para pendiri. Sementara Mendem Jero berarti mengubur dalam-dalam segala kekurangan atau sisi kemanusiaan para pendahulu, sehingga yang tersisa hanyalah inspirasi dan keberkahan bagi institusi.
“Pendiri Unisma bukanlah malaikat, mereka manusia yang punya sisi keburukan. Namun keburukan itu kita pendam sedalam-dalamnya, dan kebaikannya kita kenang agar Unisma mendapatkan barokah untuk terus melalang dunia menuju World Class University,” tegasnya.
Meski salah satu pembicara utama, KH. Nur Hasanuddin, berhalangan hadir karena kondisi kesehatan, acara tetap berjalan lancar dengan suasana religius yang kental. Pembacaan doa dipimpin langsung oleh KH. Ihsan Nur, Pengasuh Ponpes Nurul Hikmah Assalafiyah Poncokusumo. (dan/but)






