Makkah (beritajatim.com) – Langkah kaki Aysylla Naila Sari kini telah menapak di aspal hangat wilayah Syisah, Makkah. Setelah menempuh tujuh hari yang penuh dinamika di Madinah, remaja berusia 15 tahun itu akhirnya membawa ransel mimpinya mendekat ke arah Kakbah. Ada binar lega yang terpancar dari netranya; sebuah beban besar baru saja ia tanggalkan di kota sebelumnya.
Di bawah bayang-bayang kemegahan Masjid Nabawi tempo hari, Ays—begitu ia akrab disapa—tidak hanya disibukkan dengan lantunan zikir. Ia harus bergelut dengan sinyal dan layar ponsel demi menuntaskan soal-soal ujian kelulusan sekolahnya. Madinah menjadi saksi bisu bagaimana seorang anak nelayan asal pesisir Tambakrejo, Kabupaten Malang, memperjuangkan masa depannya di sela-sela ibadah.
Saat ditemui wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), Ays tengah beristirahat di Hotel Marjan Al Salam, Sektor 1, Syisah, Tanah Suci Makkah. Hotel yang menjadi “rumah” barunya di Makkah ini menjadi titik temu setelah rangkaian ujian yang melelahkan itu akhirnya tuntas dikerjakan semasa ia bermukim di Madinah.
“Kemarin waktu di Madinah, selama lima hari saya benar-benar fokus bagi waktu buat ujian online. Karena jadwalnya memang pas barengan dengan keberangkatan haji tahun ini,” tutur siswi kelas 9 MTsN 1 Kota Malang ini dengan senyum yang kian merekah.
Perjalanan spiritual Ays pada musim haji 2026 ini seolah menjadi skenario langit yang penuh kejutan. Ia tergabung dalam Kloter 16 Embarkasi Surabaya yang sempat mengalami ketegangan saat pesawat Saudi Arabian Airlines SV-5323 harus mendarat darurat di Bandara Kualanamu (KNO), Medan. Drama teknis itu membuatnya hanya memiliki waktu tujuh hari di Madinah, berkurang dari jadwal semula yang seharusnya sembilan hari.
Keterbatasan waktu itu justru memaksanya untuk lebih disiplin. Di kamar hotelnya di Madinah, ia duduk bersimpuh menghadapi aplikasi CBT (Computer Based Test).
Baginya, menunda ujian berarti merelakan momen wisudanya di tanah air pada 9 Juni mendatang. Maka, pilihan untuk ujian daring di tanah suci adalah satu-satunya jembatan menuju kelulusan.
Pada 2012 silam, sang ayah yang berprofesi sebagai nelayan di pesisir selatan Jawa itu telah mendaftarkan Ays untuk berhaji. Saat itu, Ays hanyalah balita berusia 1 tahun 8 bulan yang belum mengerti mengapa namanya masuk dalam daftar tunggu selama 14 tahun.
“Bapak dan Ibu sudah haji tahun 2006. Mereka ingin saya dan kakak-kakak bisa berangkat saat masih muda, biar kuat fisiknya,” kenang Ays. Keyakinan sang ayah yang membanting tulang di laut Malang Selatan itu kini membuahkan hasil; putri bungsunya berdiri tegak di Makkah sebagai hajjah muda yang cerdas.
Kini, setelah melintasi “ujian” ganda di Madinah—baik ujian sekolah maupun ujian kesabaran saat pesawat terkendala—Ays bersiap untuk puncak haji. Menempati Hotel Marjan Al Salam di wilayah Syisah yang strategis, ia mulai merajut fokus untuk rangkaian ibadah di Armuzna.
Bagi Ays, setiap butir keringat yang jatuh di Makkah adalah penghormatan untuk perjuangan ayahnya di laut lepas.
Ia membuktikan bahwa doa-doa yang dilarungkan dari bibir pantai Tambakrejo telah sampai ke depan pintu Baitullah, membawa seorang remaja yang membawa pena di satu tangan dan tasbih di tangan lainnya. [ian/MCH]






