Malang (beritajatim.com) – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Brawijaya (UB) mengeluarkan panduan resmi bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke kampung halaman. Imbauan tersebut bertujuan menekan angka kecelakaan lalu lintas dengan menerapkan prinsip keselamatan kerja dalam aktivitas mobilitas masyarakat selama mudik.
Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., ASEAN Eng., IPU., menegaskan bahwa tradisi mudik yang menjadi momen kebahagiaan harus dibarengi kesadaran mitigasi risiko yang tinggi. Menurutnya, prinsip keselamatan dan kesehatan kerja sangat relevan diterapkan untuk memastikan perjalanan berlangsung aman, sehat, dan nyaman.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Prinsip K3 mengajarkan kita untuk mengidentifikasi risiko sejak awal dan melakukan langkah pencegahan agar perjalanan tetap terkendali,” ujar Prof. Qomariyatus di Malang, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, langkah krusial pertama yang wajib dilakukan pemudik adalah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi kendaraan sebelum berangkat. Menurutnya, banyak insiden di jalan raya bermula dari pengabaian faktor teknis yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.
Komponen vital seperti mesin, sistem pengereman, kondisi ban, hingga fungsi lampu kendaraan harus dipastikan dalam kondisi optimal sebelum perjalanan dimulai.
“Jangan spekulasi dengan kondisi kendaraan. Pemeriksaan sederhana sebelum berangkat bisa menyelamatkan nyawa,” tambahnya.
Selain faktor kendaraan, aspek manusia juga menjadi penentu utama keselamatan selama perjalanan. Dosen kesehatan masyarakat tersebut menyoroti kelelahan sebagai salah satu pemicu utama kecelakaan lalu lintas.
Ia menyarankan para pemudik merencanakan rute perjalanan dengan matang serta menentukan titik-titik istirahat secara berkala agar kondisi fisik tetap terjaga selama perjalanan jauh.
Ia juga mengingatkan agar pengendara tidak memaksakan diri ketika konsentrasi mulai menurun atau rasa kantuk muncul saat berkendara.
“Jika mulai mengantuk, segera berhenti di rest area. Istirahat yang cukup adalah kunci untuk mengembalikan fokus di balik kemudi,” jelasnya.
Sebagai bentuk mitigasi risiko, pemudik juga dianjurkan membawa perlengkapan darurat seperti kotak P3K, senter, dan segitiga pengaman. Perlengkapan tersebut dinilai penting untuk membantu penanganan awal apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan.
Selain aspek perjalanan, penerapan prinsip K3 juga mencakup keamanan hunian yang ditinggalkan selama mudik. Masyarakat diimbau memastikan seluruh pintu dan jendela rumah terkunci, mencabut aliran listrik yang tidak diperlukan, serta memastikan saluran gas dalam kondisi tertutup.
“Memastikan rumah aman sebelum ditinggalkan adalah bagian dari penerapan K3 sehari-hari. Dengan begitu, pemudik bisa pulang dengan perasaan tenang,” kata Prof. Qomariyatus.
Melalui edukasi ini, Universitas Brawijaya berharap masyarakat dapat merayakan Idulfitri bersama keluarga dalam kondisi sehat dan selamat. Kampanye tersebut mengusung pesan utama “Keluarga Aman, Mudik Bahagia, Kecelakaan Skip” sebagai pengingat bahwa keselamatan menjadi hal paling utama dalam perjalanan mudik. [dan/beq]






