Malang (beritajatim.com) – UB (Universitas Brawijaya) Malang menargetka 1.000 desa di Jatim untuk Program Pengabdian MMD (Mahasiswa Membangun Desa). Program MMD akan menjadi mata kuliah wajib untuk mahasiswa angkatan 2022, 2021, 2020, dan 2019 dengan jumlah total 14.000 mahasiswa.
Ketua Program MMD Yusron Sugiarto, STP., MP, MSc, PhD dalam keterangan media menuturkan bahwa program tersebut dibuat agar tidak terjadi tumpang tindih antar fakultas untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya hal itu belajar dari kejadian di masa lalu.
“Dulunya ada berbagai jenis program pengabdian masyarakat, seperti KKN tematik dan KKN kebangsaan. Namun, saat di lapangan lokasi kegiatan KKN banyak yang bentrok. Akhirnya mahasiswa berebut program yang mereka laksanakan secara bersamaan. Karena bentrok akhirnya, program yang terencana tidak dapat berjalan,” kata Yusron Sugiarto, Rabu (1/3/2023).
Kondisi tersebut kata Yusron, membuat pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UB berinisiatif melakukan integrasi kegiatan pengabdian masyarakat berfokus dengan fokus pada satu program bernama MMD.
Baca Juga: UB Malang Gelar Pelatihan Publikasi Informasi Ramah Difabel
MMD, sambungnya merupakan kegiatan wajib yang memperoleh bobot 4 SKS. Saat mahasiswa mengikuti KKN tidak perlu mengikuti kegiatan MMD. Mahasiswa dapat memilih salah satu antara MMD atau KKN.
“Pada tahun 2023 semua kegiatan pengabdian kepada masyarakat mahasiswa difokuskan ke dalam MMD. Saat ini kegiatan yang dikelola di bawah LPPM tersebut sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur, Bupati di Jawa Timur, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes, dan Bakesbangpol,” pungkas Yusro juga saat ini juga menjadi Ketua Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UB.
Senada dengan itu, Ketua Program MMD 1000 Desa Dr. Sujarwo, S.P, M.P menjelaskan, 1.000 desa di Jatim sudah didapatkannya. Para peserta berjumlah 14.000 orang akan dikelompokkan menjadi 14 mahasiswa setiap desa, dan terdiri dari lintas jurusan.
Persiapan program ini sudah terjadi sejak bulan Januari 2023 lalu, melibatkan 500 Dosen Pembimbing Lapang dan 150 Dosen Penyusun Tema untuk pengenalan potensi lokus. Dia berharap bulan Maret, mahasiswa mulai menyusun penguatan program kerja soal potensi desa yang dapat dikembangkan di masing-masing lokus, dengan pendampingan dari dosen pembimbing dan penyusun tema.
Baca Juga: Mahasiswa UB Sabet Medali Emas Ajang Internasional
“Sebelum keberangkatan akan ada pembekalan operasional dan tematik untuk mahasiswa. Pemberangkatan MMD targetnya bulan Juni 2023, para mahasiswa berada di lokus selama enam minggu. UB juga memastikan keamanan pelaksanaan kegiatan ini dengan mengatur mekanisme transportasi pemberangkatan mahasiswa dengan bertahap, serta koordinasi dengan Korem maupun Polsek setempat,” papar Sujarwo.
Dari sisi kesehatan, UB telah berkolaborasi dengan BPJS dalam rangka perlindungan kesehatan selama tiga bulan. Dia juga berharap, kegiatan ini bisa menjadi ajang kolaborasi potensial untuk peningkatan eksistensi perguruan tinggi yang bermanfaat untuk masyarakat.
“Bagi masyarakat, tentu akan ada sumbangan pemikiran dan diseminasi IPTEK dari mahasiswa untuk pembangunan desa. Bagi mahasiswa akan terbentuk team work building, peningkatan communication skill, dan kompetensi lain. Bagi dosen akan tercapai IKU ketiga, yaitu dosen berkegiatan di luar dari kampusnya,” jelas dosen dari Fakultas Pertanian tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini juga memperoleh pengakuan internasional. ” MMD ini adalah implementasi dari tema SDG’s, diharapkan pelaporan mahasiswa bisa digunakan untuk input bagi pemeringkatan Times Higher Education-Impact Ranking,” pungkasnya. [dan/beq]






