Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali menegaskan komitmennya dalam aksi kemanusiaan global. Pada 8 Juli 2025 mendatang, UB secara resmi akan memberangkatkan dua dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran (FK) untuk bergabung dalam misi kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Kerja sama antara UB, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), dan lembaga kemanusiaan internasional Rahmah Worldwide ini menjadi bukti nyata bahwa dunia pendidikan tinggi Indonesia mampu menunjukkan solidaritas global secara konkret.
Dua dokter yang diberangkatkan adalah Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp.M.N.(K), FIPP dan Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes., MMR., Sp.OT. Keduanya akan bertugas selama kurang lebih dua pekan di Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa di Gaza, bergabung bersama empat relawan BSMI lainnya.
Dalam seremoni pelepasan pada Jumat (4/7/2025), Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. menyampaikan pesan haru dan tegas bahwa aksi ini bukan sekadar pengiriman tenaga medis, tetapi bentuk tanggung jawab moral universitas terhadap krisis kemanusiaan dunia.
“Ini bukan sekadar konflik bersenjata, ini luka nurani dunia. Dan kita tidak tinggal diam. Keberangkatan ini adalah wujud nyata bahwa ilmu harus berpihak kepada kemanusiaan,” ucap Prof. Widodo.
Ia juga menyerukan solidaritas akademik global untuk mendesak penghentian kekerasan di Gaza dan membuka akses bantuan kemanusiaan tanpa syarat.
“Kita mungkin tak bisa menghentikan semua perang, tapi kita bisa mengirim harapan. Kita bisa mengirim penyelamat. Dan hari ini, insya Allah, kita mengirim cahaya terbaik kita ke Gaza,” pungkasnya.
Ketua UB Palestine Solidarity, Prof. Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, M.Kes., Sp.Park., menyampaikan bahwa pengiriman dokter ini merupakan momen bersejarah, karena baru pertama kalinya UB mengirim relawan ke Gaza.
Donasi yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari Rp1 miliar, terdiri dari, Rp700 juta dari alumni Fakultas Kedokteran UB, Rp290 juta dari sivitas akademika UB, kemudian sisanya dari penggalangan akun resmi UB Palestine Solidarity
Donasi tersebut kemudian dikonversi menjadi alat-alat medis, seperti Ultrasonografi (USG), Jarum anestesi, Bone graft (untuk operasi rekonstruksi tulang), obat-obatan dan bantuan logistik lainnya. Sebagian peralatan akan dibawa langsung ke Gaza, sebagian lagi disalurkan melalui BSMI.
Prof. Loeki menambahkan bahwa sisa donasi akan digunakan untuk program lanjutan UB Palestine Solidarity 2025, seperti advokasi hukum, beasiswa pendidikan, pengabdian masyarakat, dan kerja sama riset di bidang kemanusiaan.
Dr. Ristiawan Muji Laksono, dokter spesialis anestesi dan terapi intensif, mengaku terpanggil secara pribadi.
“Saya punya keahlian di bidang anestesi. Ketika di zona perang, tentu banyak pasien dengan trauma berat yang butuh operasi dan penanganan intensif. Ini adalah peluang untuk berbuat bagi kemanusiaan,” ucapnya.
Ia juga menyebut tantangan utama adalah keterbatasan fasilitas medis serta proses sortir ketat dari militer Israel terhadap alat-alat bantuan.
Sementara itu, Dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, spesialis ortopedi, mengatakan bahwa dukungan keluarga membuatnya mantap berangkat.
“Kami yakin sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Palestina sangat membutuhkan pertolongan. Istri dan anak-anak saya mendukung penuh,” kata Kuntadi.

Ia juga menjelaskan bahwa luka yang diderita pasien di Gaza akibat peluru dan bom kerap menimbulkan kerusakan tulang berat. Oleh karena itu, peralatan bone graft sangat vital untuk menunjang proses rekonstruksi tulang yang rusak.
“Kami bergabung dengan dokter dari seluruh dunia, termasuk dari Rahmah Jordan. Kami ditugaskan di RS An-Nasr sesuai keahlian masing-masing,” tambahnya.
Kuntadi juga membagikan pengalamannya sebelumnya saat bergabung dalam misi kemanusiaan BNPB ke Nepal tahun 2015. Namun ini adalah misi pertamanya ke zona konflik bersenjata aktif.
Prof. Dr. Muchamad Ali Safa’at, S.H., M.H., selaku Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya, menyatakan bahwa kontribusi UB dalam misi ini merupakan manifestasi dari kesadaran intelektual sivitas akademika.
“Kita tidak memandang dari mana asal konflik itu. Ketika ada persoalan kemanusiaan, kita harus hadir karena kita mampu. Dan ilmu yang kita miliki tidak boleh netral terhadap penderitaan manusia,” ujarnya saat sesi jumpa media. (dan/but)






