Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Wakil Rektor Bidang Akademik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia Tahun 2025.
Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi pimpinan akademik PTN untuk membahas arah kebijakan pendidikan tinggi, termasuk rencana revisi Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 yang mengatur sistem penjaminan mutu dan akademik di Indonesia.
Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dikti Saintec), Dr. Berry Juliandi, menyampaikan bahwa kementerian membuka ruang seluas-luasnya bagi para pemangku kepentingan. Terutama untuk memberikan masukan demi perbaikan sistem pendidikan tinggi.
“Kami sangat terbuka terhadap saran dan masukan dari para Wakil Rektor bidang akademik. Rapat kerja ini sangat luar biasa karena menjadi ajang awal bagi kami untuk mendengar langsung upaya-upaya perbaikan dari kampus-kampus di seluruh Indonesia,” ujarnya saat membuka forum tersebut yang digelar pada Senin (21/4/2025) di Ruang Algoritma UB.

Menurut Berry, fokus utama yang dibahas dalam forum ini adalah revisi Permendikbudristek 53 Tahun 2023. Regulasi ini dinilai penting karena mengatur banyak aspek terkait penjaminan mutu dan sistem akademik, termasuk kurikulum dan akreditasi.
Ia menekankan bahwa kurikulum ke depan harus memberi otonomi lebih luas kepada perguruan tinggi. Tujuannya agar dapat merancang pembelajaran sesuai kebutuhan lulusannya.
“Mahasiswa juga harus punya ruang untuk menyusun sendiri kurikulum yang paling cocok bagi masa depannya. Harapan kami, proses belajar itu tidak hanya berdampak setelah lulus, tapi sudah bisa memberi kontribusi nyata kepada masyarakat selama masa studi,” ungkapnya.
Selain itu, Berry mengungkapkan bahwa revisi aturan ini juga bertujuan menyederhanakan proses akreditasi agar tidak terlalu membebani dosen secara administratif. Ia berharap, dosen bisa lebih fokus pada inovasi pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat, tanpa harus disibukkan oleh urusan dokumen dan pelaporan yang rumit.
“Kami ingin memberdayakan perguruan tinggi agar lebih leluasa menjalankan perannya. Dosen harus diberi keleluasaan untuk berinovasi, bukan terbebani birokrasi,” tegasnya.
Rapat kerja nasional ini diikuti oleh 56 perguruan tinggi negeri dari total 74 yang tergabung dalam forum. Sebanyak 50 kampus hadir secara langsung, sementara enam lainnya mengikuti secara daring.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Imam Santoso, M.P., mengatakan bahwa UB menginisiasi kegiatan ini karena melihat pentingnya membahas isu-isu strategis dalam pendidikan tinggi.
Menurutnya, forum ini menjadi wadah penting untuk memberi masukan kepada kementerian terkait pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran yang ramah dan adaptif, serta penjaminan mutu yang berkelanjutan.
“Sebagai tuan rumah, kami merasa berkewajiban menyediakan ruang diskusi agar isu-isu akademik bisa dikaji bersama. Isu efisiensi tidak kami bahas karena bukan ranah akademik. Fokus kami adalah pencapaian mutu dan bagaimana pembelajaran bisa berlangsung secara optimal,” jelas Prof. Imam.
Wawancara dengan Dr. Berry Juliandi dan Prof Imam (Foto: Dani Alifian / beritajatim.com)
Selain rapat kerja, UB juga menyelenggarakan ajang penghargaan UB Halal Metric Award 2025. Dalam kesempatan ini, UB memberikan apresiasi kepada tiga institusi perguruan tinggi, pemerintah provinsi, dan industri yang dinilai memiliki komitmen tinggi dalam pengembangan ekosistem halal di Indonesia.
Prof. Imam menyebut, penghargaan ini diberikan berdasarkan lima dimensi, yakni kebijakan institusi, pendidikan dan pelatihan, riset dan pengabdian, infrastruktur, serta keberlanjutan ekosistem halal. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus turut mendorong langkah strategis lintas sektor untuk mewujudkan lingkungan pendidikan dan industri yang ramah terhadap prinsip halal dan keberlanjutan.
“Apakah itu melalui kebijakan, pendidikan, atau penyediaan infrastruktur, semua pihak harus bergerak bersama. Penghargaan ini adalah bentuk penghormatan terhadap komitmen mereka,” pungkasnya. (dan/ted)






