Pacitan (beritajatim.com) – Penutupan sejumlah pabrik pengolahan kayu lapis di Pacitan mendapat sorotan dari Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Pacitan, Willy Rizky Cahya Pambudi.
Menurutnya, tutupnya perusahaan tersebut bukan karena dampak melemahnya pasar, melainkan lebih pada persoalan internal manajemen.
“Kalau saya menilai, bukan karena lesunya pasar di tingkat nasional maupun di Pacitan, melainkan karena masalah internal perusahaan,” ujarnya Kamis (11/9/2025).
Pengusaha yang juga anggota DPRD Kabupaten Pacitan ini menegaskan, ketersediaan bahan baku kayu, khususnya sengon, masih mencukupi untuk mendukung beroperasinya beberapa pabrik di Pacitan.
“Kayu sengon di Pacitan masih melimpah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Willy menyebut Pacitan masih memiliki potensi besar di sektor usaha lain, terutama kuliner dan penjualan oleh-oleh. Menurutnya, peluang tersebut bisa digarap oleh pengusaha muda dan milenial, mengingat Pacitan memiliki daya tarik wisata yang mumpuni.
“Kalau menurut saya, usaha kuliner dan oleh-oleh ini yang bisa ditekuni oleh pengusaha muda dan milenial,” jelasnya.
Willy juga menghimbau agar pekerja yang terdampak PHK tidak putus asa, melainkan berani membuka usaha baru dengan memanfaatkan teknologi informasi.
“Pengusaha harus selalu berinovasi agar bisa bersaing dengan usaha dari luar maupun yang lebih dulu berkembang,” pungkasnya. (tri/ian)






