Malang (beritajatim.com) – Ribuan Aremania dan Aremanita Malang Selatan mengepung pusat Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (27/11/2022). Aksi massa dari pemuda, remaja hingga anak kecil ini, memblokade perempatan Ibukota Kabupaten Malang, Kepanjen, sejak pukul 13.30 wib.
Meski dibawah guyuran hujan lebat, aksi suporter Arema ini tetap lantang bersuara. Menuntut keadilan Tragedi Kanjuruhan, segera dituntaskan.
Gelombang aksi massa ini berkumpul sejak siang hari di Pasar Sumedang di Jalan Cepokomulyo, Kepanjen. Massa secara bergelombang, kemudian berjalan kaki menuju simpang empat pusat kota Kepanjen. Akibatnya, akses utama Jalan Provinsi yang menghubungkan Malang-Blitar pun tertutup total.
Hingga pukul 15.00 wib, massa terus berorasi. Ditengah guyuran hujan lebat, aksi massa juga menyajikan teatrikal Tragedi Kanjuruhan.
Memakai dresscode hitam-hitam, mereka menyuarakan aksi menuntut keadilan atas Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang merenggut 135 nyawa. Dengan membawa spanduk, banner dan keranda, mereka longmarch menuju simpang empat Kepanjen. Aremania menutup jalan protokol.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Sepanjang jalan mereka terus berorasi. Menuntut keadilan dan berharap kasus Tragedi Kanjuruhan bisa diusut tuntas. Di simpang empat Kepanjen, Aremania menggelar doa dan tahlil bersama. Kemudian menyampaikan aspirasi kepada Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana yang ikut turun dan hujan-hujan di tengah ribuan Aremania.
Setelah menggelar doa dan tahlil, Aremania menggelar teatrikal. Menggambarkan kejadian pada 1 Oktober 20222. Dimana aparat keamanan menembakkan gas air mata kepada para penonton di tribun hingga jatuhnya 135 jiwa dan ratusan Aremania terluka.
“Tuntutan kami pada aksi ini, selain menuntut keadilan atas Tragedi Kanjuruhan, juga ditujukan kepada PSSI. Karena sejak kejadian sampai sekarang tidak ada kelanjutan proses hukum dari PSSI,” terang Teguh Gondrong, Aremania Korwil Kepanjen.
Kata Teguh, aksi solidaritas ini tidak akan berhenti sebelum keadilan ditegakkan. Bahkan Aremania akan kembali melakukan aksi turun jalan untuk terus menuntut keadilan.
“Mereka ini terpanggil karena hati nurani dan kemanusiaan. Ribuan Aremania dari Malang Selatan ini berharap keadilan ditegakkan. Kasus Tragedi Kanjuruhan bisa diusut tuntas,” paparnya.
Dalam aksinya, Aremania juga memberi cinderamata berupa bendera kematian kepada Kapolres Malang. Dengan tujuan menitipkan duka atas Tragedi Kanjuruhan. “Yakinkan kami (Aremania) dan warga Malang Raya, bahwa negara ini masih butuh kepolisian,” ucap salah satu Aremania. (yog/kun)







